Mood : lagi santai nih
Cuaca: udara panas, tapi tidak terlalu
Snack : maen nasi campur produksi tetangga sebelah rumah
Song : lagi dengar lagunya D’Cinnamon
Genre : slow
Tanggal :5 November 2007
Dedikasi : Enjelin, teman SMA ku
Ting tong ting tong ting tong…hapeku bunyi tuh, eh nda dink, masa bunyi ringing tone nya kampungan gitu, hehehe, gengsi donk. Hahaha… pagi amat ibu Enjelin, temanku, dah berani mati menggugahku dari kenikmatan empuknya ranjangku, wah wah wah wah…tapi awalnya sih aku tidak tau, karena hapeku yang berisi RUIM (removeable user identity module) yang berbunyi. Nah lho, setelah kuangkat dan kujawab dengan lemasnya, eh eh eh ternyata ibu Enjelin yang lagi mo pamer nomer Fren barunya, hehehe… ga jadi marah deh, tapi bawaannya pingin ketawa melulu, karena dia kena bujuk oleh iklan Fren yang menawarkan hape seharga tiga ratus delapan puluh delapan ribu perak dan setelah diaktivkan kartunya, maka kita langsung akan mendapatkan bonus pulsa sebanyak delapan ratus ribu perak. Hehehe… lumayan khan? Tapi konon kabarnya tuh pulsa bonusan hanya bisa dipake untuk menelefon atau SMS an ke sesama Fren aja. Ga tau juga sih, aku sendiri khan udah punya kartu Fren sejak setaon ini, dapat sebagai kado ulang taon dari adekku Sius yang anaknya kembar itu lho. Oh ya, si kembar dua hari lagi ulang taon kedua dan rencananya ada acara makan-makan tuh ama familinya.
Aku dengar sih memang ada dua hape yang di bundled (digandeng) penjualannya dengan kartu Fren. Yaitu yang satu seharga tiga ratus delapan puluh delapan ribu perak dengan pulsa sebanyak delapan ratus perak dan yang laen seharga empat ratus delapan puluh delapan ribu perak juga dapet pulsa sebanyak delapan ratus perak. Bayangin tuh pulsa khan berlaku selama setaon, atau dengan kata laen kita harus menggunakan enam puluh enam ribu enam ratus enam puluh enam dan dua pertiga perak dalam sebulannya, kalo dirata-rata lho. Itu juga berarti kita harus menggunakannya sebanyak 1755 menit bila dibulatkan ke atas (karena harga semenit ngoceh pake Fren ke Fren itu cuma tiga puluh delapan perak, karena konon kabarnya khan pulsa itu hanya bisa untuk ngerumpi-ngerumpi ke sesama Fren aja sih) atau setara dengan dua puluh sembilan jam dan lima belas menit ngoceh-ngoceh per bulannya. Atau juga setara dengan lima puluh delapan menit dan tiga puluh detik ngoceh perharinya dengan asumsi satu bulan mempunyai tiga puluh hari, hehehe…yah total jendral harus ngoceh satu jam sehari tuh, gratis lagi… lumayan khan? Hahaha…
Sebetulnya membeli kartu Fren itu merupakan investasi menguntungkan bagi para ibu rumah tangga yang suka ngerumpin orang-orang yang laen. Hehehe. Gratis tuh, dapet hape lagi, hehehe… mana ada operator selular laen yang menawarkan program serupa? Tidak ada sampe saat ini. Coba kita iseng menghitung keuntungan temanku si Enjelin ini karena menggunakan Fren. Tiap hari dia dapat satu jam ngoceh gratisan dari Fren selama setaon. Maklumlah untuk memudahkan perhitungan semuanya dibulatkan ke atas aja, jadi kita tau kurang lebih berapa sih keuntungan memakai Fren bagi pengguna baru. Jadi keuntungan Enjelin yang terbiasa menggunakan voucher isi ulang dari TelkomFlexi yang terkenal dengan program berlangganan “call dropped” nya ini, merupakan keuntungan sebanyak tiga ratus enam puluh lima hari (setaon ada tiga ratus enam puluh lima hari khan? hehehe) dikali dengan enam puluh menit (satu jam punya sebanyak itu menitnya, hehehe) dan semuannya dikalikan dengan empat puluh sembilan perak (tarif resmi dari TelkomFlexi prabayar) menghasilkan, ah berapa sih mana nich kalkulatorku. Walah walah khan aku ketiknya di computer, namanya juga computer ngapain aku cari-cari calculator scientific ku, khan cukup buka Start – All Programs - Accessories dan ketemu dah program Calculator yang asik ngumpet di sana. Dan setelah kupencet-pencet numeric keypad ku akhirnya aku mendapatkan satu juta tujuh puluh tiga ribu seratus perak. Wah untung untung untung untung…
Bole dikata pihak TelkomFlexi dirugikan lebih dari sejuta oleh program Fren tersebut setaon ke depannya. Aha…rupanya pemalas-pemalas yang merupakan petinggi-petinggi TelkomFlexi yang enggan membenahi dan mengatasi masalah dengan network mereka itu lambat laun akan kehilangan pelanggannya yang tidak mau dikerjain oleh tingginya tingkat gagal panggil dan juga program blokir memblokir jalur sambungan ke PSTN punya Telkom itu. Maklum Telkom dan TelkomFlexi khan masi serumpun juga dengan Telkomsel. Yang notabene dulunya adalah monopolis dari jaringan telekomunikasi di Indo ini dan dulunya isinya para birokrat yang suka makan gaji buta aja. Yah mental birokrat Indo khan sudah ketebak, cuma mau kerja bila dikasi amplop alias uang pelicin…
Ah biarlah TelkomFlexi tetapi begitu. Kenyataannya management dari Mobile Eight yang menerbitkan kartu Fren ini tidak berkinerja optimal untuk bergerak di bidang telekomunikasi yang berkembang pesat ini. Heran aja setelah aku membaca di tabloid bisnis dan disana akhir-akhir ini dikabarkan kalo Mobile Eight dalam kesulitan finansial karena kinerja management merekapun tidaklah sebagus yang seharusnya mereka berikan, kok petinggi-petingginya masi bercokol disana ya? Aneh aja, andai aku share holder dari perusahaan ini, sudah pasti aku akan menuntut para staf direksi dan managementnya semuanya dilengserkan total karena mereka tidak berkinerja bagus untuk sebuah perusahaan yang telah nekad go public. Bahkan aku akan menuntut agar mereka go private dulu untuk membenahi masalah struktural dalam perusahaannya. Bener-benar tidak masuk diakal gimana mereka mau berkompetisi di bidang penyedia jasa telekomunikasi bila mereka semua malas-malas tidak mau menggunakan otak mereka untuk berpikir kedepan dan tidak hanya ngerjain pengguna layanan jasa mereka yang loyal dengan program memutus paksa sambungan telefon. Aku yakin banyak pengguna Fren dan TelkomFlexi yang sudah pernah dikerjain oleh kedua operator itu karena tiba-tiba mereka berada dalam situasi mereka ngoceh sendiri karena sambungan telefonnya sudah diputus oleh operator. Apapun alasannya tidak bisa diterima, karena itu merugikan pengguna..
Kembali ke program promo Fren yang menawarkan hape-hape sederhana buatan negeri tirai bambu itu. Memang benar dan tidak salah bila orang berpendapat barang-barang buatan negeri itu tidak bagus. Maklumlah khan dikerjakan oleh orang-orang yang tidak terlalu profesional dibidangnya. Tapi bila kita tinjau lebih jauh lagi, ternyata barang-barang produksi dalam negeripun tidak bagus adanya. Ingat aja hape-hape bermerk Nexian dan Sanec yang jelas-jelas produksi dalam negeri (disamping Polytron yang merupakan anak perusahaan dari pabrik rokok Djarum), hape-hape Nexian dan Sanec tersebut dikenal sebagai hape mahal dengan fitur minimun dan rentan rusak pula. Nah lho?
Ya memang banyak pekerja Indo di perusahaan-perusahaan tersebut yang digaji dengan upah minimum dan juga tidak terkualifikasi dengan baek. Nah terus produksi mana yang lebih baek? Untuk barang elektronik dan garment (pakean) memang produksi negeri asal beruang panda itu jauh lebih bagus dan sangat bagus untuk perbandingan nilai harga investasi dan hasil/fitur yang didapat. Liat aja, produk andalan dari Nokia serie N yang diagung-agungkan itu, ternyata adalah produksi lokal negeri China yang dibranded (dibeli secara exclusive dan hanya ditempelin merek) oleh Nokia dan dilengkapin dengan batterie Nokia (yang juga seratus persen diproduksi di China dan Taiwan) dan diisi dengan software Symbian dari Nokia. Symbian sih bukan punya Nokia, tapi punya Symbian Consortium yang spesial mengembangkan software sistem operasi khusus untuk mobile devices seperti handphone dan PDA. Makanya tidak heran bila N73 handphone sejuta umat yang dulunya sangat mahal itu banyak di-complain kinerjanya karena handset nya memang tidak seratus persen kompatibel dengan software nya. Makanya software nya butuh di update.
Pertanyaannya kenapa Nokia justru memakai produksi dari negeri China bila tidak bagus? Jawabannya adalah menghemat ongkos produksi. Logis khan? Di negera tersebut tenaga kerja tergolong sangat murah (seperti di Polandia dan Russia jaman dulu) dan karena semua orang ingin bisa bekerja di perusahaan asing, maka upah mereka dengan mudahnya bisa didikte oleh si pemberi pekerjaan. Juga serikat buruh di sana tidak berkembang karena diawasi oleh partai yang berkuasa. Jika serikat buruh tidak berkutik, maka politik upah bisa terkendali dan kestabilan suatu perusahaan bisa dijamin dan dengan demikian kinerja pabrik-pabriknya sudah pasti bagus dan juga konsisten. Hanya dengan persyaratan seperti itu maka China bisa berkembang pesat dalam bidang produksi.
Bandingkan dengan Indonesia yang pekerjanya tergolong malas-malas dan manja-manja tersebut. Dikit-dikit demonstrasi minta naek gaji dll. Wah wah wah wah (ala pak Raden lagi), gawat tuh. Maka tidak heran bila banyak perusahaan asing seperti Nike, Mitsubishi dan banyak lagi perusahaan asing yang akhirnya hengkang dari bumi Indonesia. Napa? Tentu saja karena politik dalam negeri ini yang tidak bagus untuk iklim perekonomian Indonesia. Perekonomian Indonesia ini lumayan rentan untuk hancur karena tidak didukung oleh substan yang bagus melainkan hanya didukung oleh tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Maklum juga khan sebagian besar dari masyarakat kita tidak mempunyai apa-apa sejak perang kemerderkaan sampai era orde barunya mantan presiden Soeharto. Jadi tidak heran bila bisnis kartu kredit marak adanya dan juga banyak sepeda motor berkeliaran di jalan. Maklumlah kreditan kini mudah dan bisa terjangkau oleh siapapun dan itulah yang mendongkrak perekonomian di Indonesia ini. Konsumsi itu aja. Liat aja penjualan hape tipe Communicator nya Nokia paling tinggi adalah di Indonesia. Napa? Karena orang Indo ini tergolong bergengsi tinggi. Padahal aku tau kalo si empunya Communicator itu tidak memanfaatkan semua fitur dengan maximal. Tanya aja berapa banyak pengguna Communicator tersebut yang menggunakan MMS, mengirim email dan fax maupun untuk internetan? Tidak sampai sepuluh persennya. Sisanya hanya merasakan bangga bisa menggotong-gotong kotak pinsil tersebut dan hanya digunakan untuk meningkatkan status sosial mereka aja. Lantas siapa pemenang dari semua ini? Tentu saja pihak vendor nya, hehehe…
Laen halnya dengan orang-orang dari negera maju. Mereka membeli barang kebutuhan mereka seperti hape itu berdasarkan kebutuhan. Bila mereka hanya suka menelefon dan kirim pesan singkat aja, maka mereka pasti menggunakan hape yang biasa aja. Alhasil pertumbuhan ekonomi mereka juga tidak ditunjang oleh tingginya angka konsumsi barang-barang. Namun negera seperti amerika serikat, mereka mewajibkan penduduknya dan institusi-institusi nya untuk lebih memprioritaskan produk dalam negeri. Misal untuk hape mereka lebih suka memakai merek Motorola yang de facto adalah produksi dalam negeri. Bandingkan dengan Indo sini, siapa sih yang mau pake hape merk Nexian maupun Sanec? Betol sekali, hampir tidak ada. Malah hape merk ZTE yang dipasarkan dengan gencar oleh pihak Fren dan Esia maupun hape yang bermerk HTC dari Taiwan itu yang merajai pasar Indo. Napa? Kembali kepada kemalasan dan ketidak-kreativan petinggi-petinggi marketing dari Nexian dan Sanec yang rupanya gagal menyakinkan pengguna-penggunanya dengan kualitas produksi yang lebih baek daripada yang ada sekarang ini, maupun karena mereka gagal mengembangkan strategi marketing yang lebih baek dan juga gagal melakukan pendekatan ke operator-operator seluler seperti yang dilakukan oleh pihak ZTE dan HTC tersebut.
Yach begitulah situasi ekonomi di Indonesia. Akhirnya aku pun juga senang, bila akhirnya temanku Enjelin ternyata bijak juga dengan membeli kartu Fren di masa promo ini untuk memudahkan acara ngerumpinya dan sekaligus meringankan beban kantongnya dengan mendapatkan kado pre-natal sebesar delapan ratus ribu perak ongkos ngoceh gratisan selama setaon dari Fren. Selamat selamat dariku… semoga engkau hepi-hepi saja dengan hape butut, eh salah hape sederhana dari ZTE itu dan juga makin sering berpanas-panas kuping memakai hape itu untuk ngerumpin dengan Grace di Jakarta, hehehe…
Tuesday, November 6, 2007
Sunday, November 4, 2007
Tikusku Manis Tikusku Sadis
Mood : lagi kekenyangan
Cuaca: hujan rintik-rintik diiringi petir yang memekakkan telinga
Snack : lagi menikmati segelas ovaltine
Song : lagi dengar lagu-lagu di radio L’Viktor FM Surabaya
Genre : lagu-lagu Indonesia
Tanggal : 4 November 2007
Dedikasi : Linawati teman baruku
Wah tak terasa sudah memasuki hari keempat di bulan November yach..hehehe..Setelah kemaren aku cape berlama-lama di Jatim Expo untuk mengunjungi acara pameran computer dan sekaligus cari-cari mangsa SPG sales promotion girl yang lumayan ramah dan bisa diajak becanda, maka sesampainya di rumah aku langsung jadi horny karena meliat spring bed dan bantal kesayanganku, hehehe… jadi bawaannya pingin bobo terus, hehehe… eh ndak dink, aku maen game di computer yang namanya Port Royale 2. Game ini buatan orang-.orang Jerman. Aku sudah menyukainya sejak aku masi di Jerman. Jadi tiap malem bila aku lagi senggang dan bocan aku maen tuh game. Sejak akhir 2004 aku suka sekali maenin tuh simulasi ekonomi. Benernya bukan simulasinya yang ku suka, namun perang lawan bajak lautnya itu lho.
Maklum dulu semasa aku kecil aku suka banget baca komik petualangan si Barbarosa bajak laut berjanggut merah dan anaknya si Eric. Cerita heroik macam itu pula yang sempat membuat rasa ingin tauku berkembang, sehingga di pertengahan taon 1992, tepatnya sewaktu masa liburan Pantekosta di taon itu, aku berangkat bersama dengan dengan teman-teman sesama mahasiswaku yang semuanya berkebangsaan Jerman (maklum aku kuliahnya khan di Jerman, hehehe). Kami dulu satu grup dalam organisasi kemahasiswaan tradisional yang masi menganut asas-asas kuno yang telah mendarah daging sejak jaman kekaisaran Jerman sebelon perang dunia kedua. Itu lho organisasi mahasiswa seperti yang kita kenal dari film-film amerika seperti Alpha Phi Beta atau Gamma Delta Rho dan sebagainya.
Nah dulu itu kami berlayar dari Amsterdam naek kapal layar kecil ke pulau Texel di laut utara yang masi merupakan daerah teritorial Belanda. Tentu saja waktu itu perjanjian Schengen belon berlaku, sehingga dengan visa pelajar yang kumiliki aku tidak bisa lenggang kangkung melewati perbatasan Jerman-Belanda seenak jidatku. Jadi aku harus memohon visa kunjungan di Konsulat Belanda terdekat, yang waktu itu masi bertempat di kota Bonn, yang dulunya ibukota Jerman Barat. Oya, ibukota Jerman setelah persatuan Jerman tanggal tiga Oktober 1990 itu sekarang adalah Berlin, yang juga merupakan ibukota Jerman dari jaman dahulu dan juga ibukota Jerman Timur setelah perang dunia kedua berakhir.
Kapten kapal kami adalah orang Belanda tulen yang suka banget menegak bir ramuan orang Belanda yang namanya Heineken dan maat nya (letnan nya) itu cewe orang Jerman yang lumayan cakep. Kami semua sepuluh orang cowo dan satu cewe Jerman. Jadi kami bertigabelas sekapal kecil itu, mengarungi lautan utara di bulan Juni 1992. Di sana aku merasakan pertama kalinya, betapa panasnya berlayar itu. Wah wah wah wah (ala pak Raden nya si Unyil), kalo gitu pelaut-pelaut itu pasti sudah terlatih untuk berpanas-ria selama berlayar donk. Hahaha. Jelas aja, sinar matahari bukan hanya datang dari atas tapi juga dari pantulan airnya itu lho booook! Panas nian, hehehe.. ga mau deh, kalo di suruh ngulang lagi. Mana sang kapten memang nomor satu kalo di suruh minum-minum. Untung-untung dia kuat minumnya seperti kaptern Haddock nya si Tintin, jadi tidak muntah-muntah, hehehe… tapi jangan kuatir, para kapten Belanda itu terkenal jago minum dan jago navigasi. Liat aja mereka sampai ke Indonesia uang de facto jauh banget dari Belanda. Harap diingat juga, waktu itu terusan Suez di Mesir belon ada. Jadi mereka masi harus mengitari Semenanjung Harapan Baek (Cape ot the Good Hope) dari Afrika Selatan. Juga harap diketaui, kalo Afrika Selatan sampai abad ke dua puluh juga masi merupakan jajahan Belanda. Hehehe… ya aku maklum juga sih, banyak orang yang sudah lupa, makanya aku memberanikan diri sedikit kasi info tambahan di sini, hehehe…
Wah kok jadi ngomongi tentang berlayar sih. Tadi khan mau cerita tentang tikusku. Iya tuh, di rumahku ada tikusnya, penghuni tak diinginkan. Abis dia hobinya gigit-gigit kabel telefon sampe putus sih. Sial banget khan? Akibatnya telefon-telefon dan fax di sini pada lumpuh semua. Gawat juga. Padahal sudah diganti berkali-kali tuh kabel. Tapi tetap aja dia bisa manjat dan gigit-gigit tuh kabel. Katanya temanku Lina sih itu hobi sang tikus untuk mengasah giginya. Wah wah wah wah (tentu aja ala pak Raden lagi), gawat donk. Udah gitu tuh tikus ga tau diri lagi, masa sabon cuci digigit-gigit juga, apa tidak mual-mual ya dianya? Ah apa peduliku, hehehe. Yang lebih gawat lagi itu, tadi pagi setelah aku tergugah dari bobo ku, aku menemukan kantong plastik isi ulang karbol, sabon untuk mengepel lantai, udah bolong digigit sang tikus. Nah ya, pasti dialah, karena di rumahku tidak ada binatang peliharaan uang laennya, hehehe… bandel juga tuh dia.
Akibatnya sama seperti kantong plastik isi ulang sabon cuci piring yang waktu lebaran digigitnya itu sampe bocor itu, serumahku bau karbol yang sangat menusuk hidung. Payah deh. Jadinya tadi pagi aku bersih-bersih rumah untuk membebaskan kamar tengahku dari bau menyengat itu. Terus usut punya usut asal tidak kusut, aku sadar juga kalo fax dan telefon rumahku tidak bisa dipake, alias tidak berfungsi karena kabelnya putus dimakan tikus. Heran juga, padahal itu kabel telefon khan dialirin tegangan arus bolak balik enam puluh volt dari Telkom, kok si Tikus tidak tersengat juga ya? Kalo kita manusia sih emang enam puluh volt arus bolak balik itu tidak berbahaya, tapi untuk tikus item jelek itu, pasti lebih simple bentukan organnya dan pasti pula lebih kecil resistor tubuhnya, sehingga bole dikata strom yang akan mengalir ke arah jantungnya lebih besar, tapi napa dia tidak tewas atau minimal jera ya? Hehehe…. Rupanya tuh tikus juga punya malaikat pelindung dan bonek (bondo nekat) juga, hehehe…
Setelah semua kekacauan yang disebabkan oleh tikus itu berhasil diatasi, maka tindakan selanjutnya ya berburu tikus, hehehe. Kakak sepupuku yang di Semarang pernah kasi aku tip untuk membunuh tikus. Pake kapur barus dengan minyak tanah. Nah lho. Aku sih belon pernah dengar tuh seumur idup. Terus temanku Swandi juga bilang, aku bisa beli parfum berbau pohon cendana. Karena konon kabarnya, si tikus paling benci dengan bau cendana. Wah benernya bole juga tuh dicoba. Aku cuma tau kalo bau cendana itu bisa mengusir ngengat. Terus temanku si Lina, dia bilang, tikusnya biasanya beranak-anak. Jadi kita harus hati-hati jika mempunyai binatang peliharaan yang tidak kita sukai di rumah. Dia punya pengalaman dengan tikusnya yang beranak-anak sampai menyembunyikan anaknya dalam kantong bajunya. Iiiihhh…
Syukurnya aku tidak mengalaminya, paling tidak sampe sekarang tuh tikus tidak bunting-bunting. Mungkin juga tikus cowo, hehehe… aku sendiri heran, napa tuh tikus demen banget tinggal dalam rumah sih. Khan diluar rumah lebih banyak kemungkinan dia memenuhi rasa laparnya. Lagian kita tidak pelihara kucing kok. Ato tuh tikus juga tipe tikus elit yang ga sudi kepanasan. Maklumlah rumahku khan full AC jadi suhu ruangan tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab dibandingkan dengan udara luar.
Jadi tadi pagi sampe siang dengan bersenjatakan pentungan satpam (beneran pinjam dari satpamku lho, hehehe) dan payung, kami mencoba mengusir tuh tikus. Tapi si tikus itu cerdik secerdik serigala, jadi meski kami sudah berusaha mengusir dia, tetap aja aku harus menghabiskan semalam (atau lebih) idup bersama tikus ganjen itu. Wah wah wah wah (dah ketebak khan? Ala pak Raden seperti biasa, hehehe)…
Sebenernya aku tidak suka membunuh binatang. Khan tikus juga ciptaan Tuhan. Jadi aku (paling) tidak (atau lebih tepatnya belon) menggunakan cara brutal seperti memanggil pest control, ghost buster atau memakai racun tikus gitu. Idealnya sih pake jepretan tikus. Tapi jaman sekarang dimana lagi bisa didapat jepretan tikus seperti itu? Bahkan di alun-alun di kota Sidoarjo (tempat ortuku tinggal) juga sudah tidak bisa didapat lagi alat jebakan seperti itu. Mungkin juga karena mutasi gen dan perkembangan otak tikus dari satu generasi ke generasi, makanya sudah sangat jarang terdengar ada tikus yang mau dengan segala rasa suka rela masuk ke dalam perangkap maut tersebut. Walhasil tidak bisa dibeli lagi dimana-mana.
Gigit-gigit itu aja masi belon tergolong menjengkelkan, karena sang tikus ternjata bisa beol dimanapun dia mau. Masa sih dia tidak tau kalo kita punya WC, khan dia bisa tanya kalo tidak tau dimana WC kita. Tul nda? Gitu aja kok repot. Eh salah, beol aja kok masi merepotkan kita untuk membersihkan bekas beolnya. Dasar tikus manja. Besar-besar lagi tuh punya dia, untung aja tidak bau juga. Tempat sampahpun menjadi tidak aman karenanya. Isinya bisa pindah tempat kemana aja. Dia pikir makanan mungkin. Jadinya tiap malam aku rajin mengosongkan tempat sampah sebelon tidur, jadi isinya tidak jalan-jalan tanpa diperintah gitu. Hehehe…
Ya gitulah nasib kita-kita yang punya binatang peliharaan tanpa kita mau ini. Payah juga ya. Ada yang bilang hanya rumah yang kotor dan tidak teratur aja yang disukai tikus. Tapi buktinya khan laen. Ruangan-ruanganku ini sejak aku tinggal di sini awal 2006 tergolong rapi bersih dan teratur. Maklum aku khan rajin bersih-bersih sendiri, tiap sabtu dan minggu bila aku ngendon di rumah, pasti aku bersih-bersih dan beres-beres kerjaannya. Enak pembantuku, dia bisa santai menikmati weekend nya. Ya iyalah, khan pembantu juga manusia, masa disuruh kerja terus tiap hari. Walaupun sudah wajar bila pembantu rumah tangga itu bekerja tujuh hari dalam seminggu. Tapi di tempatku laen. Aku yang bekerja sementara pembantuku cangkruk di belakang nonton tivi, hehehe… itung-itung pengamalan hak-hak asasi pembantulah, hehehe…
Sebagai penutup kisah ini, aku jadi ingat sama lagu kuno yang biasa disenandungkan oleh pramuka (waktu kecil danb elon gendut aku ini mantan pramuka yang handal, suka camping, hiking, manjat tebing dan makan belimbing, hehehe…) dan para pencinta alam maupun anggota menwa pengangguran… judulnya apa ya? Dah lupa juga, aku ingat lagi aja baru ketika temanku Tjahyono menyanyikannya lagi dengan nada seperti lagu “Sepasang Mata Bola” nya Iwan Fals, hehehe…. Dikit-dikit parno tapi menarik untuk dikenang, hehehe…
Hampir malam di ranjang
Ketika pacarku telanjang
Remang-remang merangsang
Terkejut batangku menegang
Buah dada menantang
Seakan-akan dia menantang
Seakan-akan dia berkata
Tiduri aku pahlawan
Daripada ditiduri kopral
Cuaca: hujan rintik-rintik diiringi petir yang memekakkan telinga
Snack : lagi menikmati segelas ovaltine
Song : lagi dengar lagu-lagu di radio L’Viktor FM Surabaya
Genre : lagu-lagu Indonesia
Tanggal : 4 November 2007
Dedikasi : Linawati teman baruku
Wah tak terasa sudah memasuki hari keempat di bulan November yach..hehehe..Setelah kemaren aku cape berlama-lama di Jatim Expo untuk mengunjungi acara pameran computer dan sekaligus cari-cari mangsa SPG sales promotion girl yang lumayan ramah dan bisa diajak becanda, maka sesampainya di rumah aku langsung jadi horny karena meliat spring bed dan bantal kesayanganku, hehehe… jadi bawaannya pingin bobo terus, hehehe… eh ndak dink, aku maen game di computer yang namanya Port Royale 2. Game ini buatan orang-.orang Jerman. Aku sudah menyukainya sejak aku masi di Jerman. Jadi tiap malem bila aku lagi senggang dan bocan aku maen tuh game. Sejak akhir 2004 aku suka sekali maenin tuh simulasi ekonomi. Benernya bukan simulasinya yang ku suka, namun perang lawan bajak lautnya itu lho.
Maklum dulu semasa aku kecil aku suka banget baca komik petualangan si Barbarosa bajak laut berjanggut merah dan anaknya si Eric. Cerita heroik macam itu pula yang sempat membuat rasa ingin tauku berkembang, sehingga di pertengahan taon 1992, tepatnya sewaktu masa liburan Pantekosta di taon itu, aku berangkat bersama dengan dengan teman-teman sesama mahasiswaku yang semuanya berkebangsaan Jerman (maklum aku kuliahnya khan di Jerman, hehehe). Kami dulu satu grup dalam organisasi kemahasiswaan tradisional yang masi menganut asas-asas kuno yang telah mendarah daging sejak jaman kekaisaran Jerman sebelon perang dunia kedua. Itu lho organisasi mahasiswa seperti yang kita kenal dari film-film amerika seperti Alpha Phi Beta atau Gamma Delta Rho dan sebagainya.
Nah dulu itu kami berlayar dari Amsterdam naek kapal layar kecil ke pulau Texel di laut utara yang masi merupakan daerah teritorial Belanda. Tentu saja waktu itu perjanjian Schengen belon berlaku, sehingga dengan visa pelajar yang kumiliki aku tidak bisa lenggang kangkung melewati perbatasan Jerman-Belanda seenak jidatku. Jadi aku harus memohon visa kunjungan di Konsulat Belanda terdekat, yang waktu itu masi bertempat di kota Bonn, yang dulunya ibukota Jerman Barat. Oya, ibukota Jerman setelah persatuan Jerman tanggal tiga Oktober 1990 itu sekarang adalah Berlin, yang juga merupakan ibukota Jerman dari jaman dahulu dan juga ibukota Jerman Timur setelah perang dunia kedua berakhir.
Kapten kapal kami adalah orang Belanda tulen yang suka banget menegak bir ramuan orang Belanda yang namanya Heineken dan maat nya (letnan nya) itu cewe orang Jerman yang lumayan cakep. Kami semua sepuluh orang cowo dan satu cewe Jerman. Jadi kami bertigabelas sekapal kecil itu, mengarungi lautan utara di bulan Juni 1992. Di sana aku merasakan pertama kalinya, betapa panasnya berlayar itu. Wah wah wah wah (ala pak Raden nya si Unyil), kalo gitu pelaut-pelaut itu pasti sudah terlatih untuk berpanas-ria selama berlayar donk. Hahaha. Jelas aja, sinar matahari bukan hanya datang dari atas tapi juga dari pantulan airnya itu lho booook! Panas nian, hehehe.. ga mau deh, kalo di suruh ngulang lagi. Mana sang kapten memang nomor satu kalo di suruh minum-minum. Untung-untung dia kuat minumnya seperti kaptern Haddock nya si Tintin, jadi tidak muntah-muntah, hehehe… tapi jangan kuatir, para kapten Belanda itu terkenal jago minum dan jago navigasi. Liat aja mereka sampai ke Indonesia uang de facto jauh banget dari Belanda. Harap diingat juga, waktu itu terusan Suez di Mesir belon ada. Jadi mereka masi harus mengitari Semenanjung Harapan Baek (Cape ot the Good Hope) dari Afrika Selatan. Juga harap diketaui, kalo Afrika Selatan sampai abad ke dua puluh juga masi merupakan jajahan Belanda. Hehehe… ya aku maklum juga sih, banyak orang yang sudah lupa, makanya aku memberanikan diri sedikit kasi info tambahan di sini, hehehe…
Wah kok jadi ngomongi tentang berlayar sih. Tadi khan mau cerita tentang tikusku. Iya tuh, di rumahku ada tikusnya, penghuni tak diinginkan. Abis dia hobinya gigit-gigit kabel telefon sampe putus sih. Sial banget khan? Akibatnya telefon-telefon dan fax di sini pada lumpuh semua. Gawat juga. Padahal sudah diganti berkali-kali tuh kabel. Tapi tetap aja dia bisa manjat dan gigit-gigit tuh kabel. Katanya temanku Lina sih itu hobi sang tikus untuk mengasah giginya. Wah wah wah wah (tentu aja ala pak Raden lagi), gawat donk. Udah gitu tuh tikus ga tau diri lagi, masa sabon cuci digigit-gigit juga, apa tidak mual-mual ya dianya? Ah apa peduliku, hehehe. Yang lebih gawat lagi itu, tadi pagi setelah aku tergugah dari bobo ku, aku menemukan kantong plastik isi ulang karbol, sabon untuk mengepel lantai, udah bolong digigit sang tikus. Nah ya, pasti dialah, karena di rumahku tidak ada binatang peliharaan uang laennya, hehehe… bandel juga tuh dia.
Akibatnya sama seperti kantong plastik isi ulang sabon cuci piring yang waktu lebaran digigitnya itu sampe bocor itu, serumahku bau karbol yang sangat menusuk hidung. Payah deh. Jadinya tadi pagi aku bersih-bersih rumah untuk membebaskan kamar tengahku dari bau menyengat itu. Terus usut punya usut asal tidak kusut, aku sadar juga kalo fax dan telefon rumahku tidak bisa dipake, alias tidak berfungsi karena kabelnya putus dimakan tikus. Heran juga, padahal itu kabel telefon khan dialirin tegangan arus bolak balik enam puluh volt dari Telkom, kok si Tikus tidak tersengat juga ya? Kalo kita manusia sih emang enam puluh volt arus bolak balik itu tidak berbahaya, tapi untuk tikus item jelek itu, pasti lebih simple bentukan organnya dan pasti pula lebih kecil resistor tubuhnya, sehingga bole dikata strom yang akan mengalir ke arah jantungnya lebih besar, tapi napa dia tidak tewas atau minimal jera ya? Hehehe…. Rupanya tuh tikus juga punya malaikat pelindung dan bonek (bondo nekat) juga, hehehe…
Setelah semua kekacauan yang disebabkan oleh tikus itu berhasil diatasi, maka tindakan selanjutnya ya berburu tikus, hehehe. Kakak sepupuku yang di Semarang pernah kasi aku tip untuk membunuh tikus. Pake kapur barus dengan minyak tanah. Nah lho. Aku sih belon pernah dengar tuh seumur idup. Terus temanku Swandi juga bilang, aku bisa beli parfum berbau pohon cendana. Karena konon kabarnya, si tikus paling benci dengan bau cendana. Wah benernya bole juga tuh dicoba. Aku cuma tau kalo bau cendana itu bisa mengusir ngengat. Terus temanku si Lina, dia bilang, tikusnya biasanya beranak-anak. Jadi kita harus hati-hati jika mempunyai binatang peliharaan yang tidak kita sukai di rumah. Dia punya pengalaman dengan tikusnya yang beranak-anak sampai menyembunyikan anaknya dalam kantong bajunya. Iiiihhh…
Syukurnya aku tidak mengalaminya, paling tidak sampe sekarang tuh tikus tidak bunting-bunting. Mungkin juga tikus cowo, hehehe… aku sendiri heran, napa tuh tikus demen banget tinggal dalam rumah sih. Khan diluar rumah lebih banyak kemungkinan dia memenuhi rasa laparnya. Lagian kita tidak pelihara kucing kok. Ato tuh tikus juga tipe tikus elit yang ga sudi kepanasan. Maklumlah rumahku khan full AC jadi suhu ruangan tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab dibandingkan dengan udara luar.
Jadi tadi pagi sampe siang dengan bersenjatakan pentungan satpam (beneran pinjam dari satpamku lho, hehehe) dan payung, kami mencoba mengusir tuh tikus. Tapi si tikus itu cerdik secerdik serigala, jadi meski kami sudah berusaha mengusir dia, tetap aja aku harus menghabiskan semalam (atau lebih) idup bersama tikus ganjen itu. Wah wah wah wah (dah ketebak khan? Ala pak Raden seperti biasa, hehehe)…
Sebenernya aku tidak suka membunuh binatang. Khan tikus juga ciptaan Tuhan. Jadi aku (paling) tidak (atau lebih tepatnya belon) menggunakan cara brutal seperti memanggil pest control, ghost buster atau memakai racun tikus gitu. Idealnya sih pake jepretan tikus. Tapi jaman sekarang dimana lagi bisa didapat jepretan tikus seperti itu? Bahkan di alun-alun di kota Sidoarjo (tempat ortuku tinggal) juga sudah tidak bisa didapat lagi alat jebakan seperti itu. Mungkin juga karena mutasi gen dan perkembangan otak tikus dari satu generasi ke generasi, makanya sudah sangat jarang terdengar ada tikus yang mau dengan segala rasa suka rela masuk ke dalam perangkap maut tersebut. Walhasil tidak bisa dibeli lagi dimana-mana.
Gigit-gigit itu aja masi belon tergolong menjengkelkan, karena sang tikus ternjata bisa beol dimanapun dia mau. Masa sih dia tidak tau kalo kita punya WC, khan dia bisa tanya kalo tidak tau dimana WC kita. Tul nda? Gitu aja kok repot. Eh salah, beol aja kok masi merepotkan kita untuk membersihkan bekas beolnya. Dasar tikus manja. Besar-besar lagi tuh punya dia, untung aja tidak bau juga. Tempat sampahpun menjadi tidak aman karenanya. Isinya bisa pindah tempat kemana aja. Dia pikir makanan mungkin. Jadinya tiap malam aku rajin mengosongkan tempat sampah sebelon tidur, jadi isinya tidak jalan-jalan tanpa diperintah gitu. Hehehe…
Ya gitulah nasib kita-kita yang punya binatang peliharaan tanpa kita mau ini. Payah juga ya. Ada yang bilang hanya rumah yang kotor dan tidak teratur aja yang disukai tikus. Tapi buktinya khan laen. Ruangan-ruanganku ini sejak aku tinggal di sini awal 2006 tergolong rapi bersih dan teratur. Maklum aku khan rajin bersih-bersih sendiri, tiap sabtu dan minggu bila aku ngendon di rumah, pasti aku bersih-bersih dan beres-beres kerjaannya. Enak pembantuku, dia bisa santai menikmati weekend nya. Ya iyalah, khan pembantu juga manusia, masa disuruh kerja terus tiap hari. Walaupun sudah wajar bila pembantu rumah tangga itu bekerja tujuh hari dalam seminggu. Tapi di tempatku laen. Aku yang bekerja sementara pembantuku cangkruk di belakang nonton tivi, hehehe… itung-itung pengamalan hak-hak asasi pembantulah, hehehe…
Sebagai penutup kisah ini, aku jadi ingat sama lagu kuno yang biasa disenandungkan oleh pramuka (waktu kecil danb elon gendut aku ini mantan pramuka yang handal, suka camping, hiking, manjat tebing dan makan belimbing, hehehe…) dan para pencinta alam maupun anggota menwa pengangguran… judulnya apa ya? Dah lupa juga, aku ingat lagi aja baru ketika temanku Tjahyono menyanyikannya lagi dengan nada seperti lagu “Sepasang Mata Bola” nya Iwan Fals, hehehe…. Dikit-dikit parno tapi menarik untuk dikenang, hehehe…
Hampir malam di ranjang
Ketika pacarku telanjang
Remang-remang merangsang
Terkejut batangku menegang
Buah dada menantang
Seakan-akan dia menantang
Seakan-akan dia berkata
Tiduri aku pahlawan
Daripada ditiduri kopral
High Tech dan Tahu Tek
Mood : riang gembira
Cuaca: panas dan berawan
Snack : mie duk-duk
Song : lagi dengar Metro FM Surabaya
Genre : bervariasi
Tanggal : 1 September 2007
Dedikasi : Swandi alias ibu Angsa
Sejak aku mudik dari Jerman dan memutuskan ngendon di Surabaya ini, aku jadi teringat ama kebiasaan lama sewaktu aku masi kecil, yaitu cangkruk menunggu datangnya penjaja keliling di komplex-komplex perumahan yang memakai rombong, yach semacam PKL lah (pedagang kaki lima). Ada beberapa jenis dari mereka. Jenis yang pertama adalah jenis orang-orang yang jualan mie goreng dan nasi goreng, mereka pada umumnya memukul bambu yang dilobangi sehingga terdengar bunyi duk… duk... duk… duk…seperti bedug saur itu…yang bagi beberapa orang di Indonesia sudah tidak asing lagi didengar karena bisa membantu membangunkan orang dari alam mimpi-mimpi yang indah dengan tidak suka rela…
Golongan kedua adalah bapak-bapak yang berkeliling menjajakan sajian khas kota buaya ini, yaitu tau tek. Disebut tahu tek karena mereka memukul wajan penggorengan mereka yang biasanya sudah sangat item seperti tidak pernah kenal air sabun pembersih saja, sehingga suaranya sumbang teng… teng… teng… hahaha…memang biasanya orang berpikiran kalo nama tahu tek itu berasal dari suara wajan item itu yang tepinya sudah tak berbentuk dipukul-pukul dengan riangnya tiap hari. Tapi andaikata begitu, maka namanya harusnya “tahu teng“ donk, bukan “tahu tek“, hehehe… Untungnya ada beberapa orang lebih pinter yang bilang nama tersebut didapat dari suara gunting yang dipake untuk menggunting tahu goreng tersebut, sehingga bunyinya tek.. tek.. tek.. tek.. Hmm…aku sendiri ga tau mau ikut grup yang mana yang penggemar mukul-mukul wajan atau yang rajin memainkan alat pangkas rambut itu, yang jelas rasanya lumayanlah…terutama kalo dimakan disaat kita lagi kelaparan, hahaha…
Sedangkan golongan ketiga adalah golongan mas-mas yang berjualan baso atau bakwan sambil membunyikan suara tek… tek… tek… Hehehe… jadi jangan tertukar, yang jualan tahu tek itu bunyinya teng… teng… teng… sedangkan yang bunyinya tek… tek… tek… malah jualan baso ato bakwan. Hahaha… nah mas-mas ini dulunya abang-abang becak yang dimutasi menjadi penjual baso dan bakwan, karena itu rombong mereka bermodel becak, hehehe…mereka ini biasanya menjual dagangannya berdasarkan berapa biji baso/bakwan, gorengan, tahu dan siomai nya, jadi kuahnya gratis, hehehe… kalo kita kreativ, maka kita kalo beli baso/bakwan ini, minta kuah yang banyak, karena gratis, hehehe… terus kita tinggal beli baso/bakwan sendiri di supermarket terdekat dan hanya butuh di rebus dalam air kuah punya mas nya itu yang dijamin sudah dibumbui, hahaha… jadi itung-itung kita dapet baso extra, hehehe, tanpa susah payah bikin kuahnya…
Sementara golongan keempat adalah saudagar baso ikan yang memakai bel sepeda yang bunyinya toeet… toeet… toeet…Nah makanan khas si bapak penjaja yang satu ini biasanya hanya bisa dinikmati sama pelanggan-pelanggan setia yang bisa gerak cepat, maksudnya, kalo mau cegat makanan yang satu ini orang harus berlari-lari mengejar. Napa? Bukan karena bapak-bapak itu pelatih fitnes bersertifikat yang kerjanya di balai kelurahan terdekat, tapi karena bapak-bapak itu memakai sepeda yang dirombak menjadi tempat jualan. Gimana cara ngejar bapak-bapak yang bersepeda dengan cepat itu seperti tidak niat jualan tapi hanya berniat iming-iming aja? Ya, tepat! Sang peminat yang sudah kelaparan harus berlari-lari keluar rumah sambil berteriak-teriak seperti orang yang sedang kelaparan (ya emang khan?) “pak… pak… pak… pak…” Hmm… tapi kalo dipikir ulang, benar juga ya, yang dijajakan itu baso ikan yang logisnya dibuat dari ikan (tapi hanya yang asli lho) dan semua tau kalo untuk menangkap ikan itu orang harus gerak cepat. Cara terbaek untuk belajar menangkap ikan, ya bila kita ada dikit uang sisa dari jatah belajaan bulanan untuk beli tiket, nebus visa dan bayar akomodasi di Canada, maka kita bisa banyak belajar dari beruang coklat besar yang idup dan bersosialisasi di sana, beruang grizzli yang terkenal garang dan suka maem ikan salmon yang berdaging merah muda itu. Hehehe…Tapi kalo kita lagi bokek, ya kita nonton aja TVRI tiap hari, sapa tau kita beruntung dan bisa liat tayangan ilmu pengetauan tentang beruang grizzli dan habitatnya, hahaha…siapa sih yang di jaman ini masi nonton TVRI kecuali aku, hahaha…
Kategori kelima itu adalah abang-abang penjaja es walls yang biasanya memakai becak bercat putih pudar dan memutar lagu khas walls yang tidak pernah diganti-ganti itu. Ya iyalah, kalo diganti-ganti khan orang jadi bingung, makanan apa pula itu yang ditawarkan si abang, hahaha, tapi bila dipertimbangkan ulang, mungkin dengan ganti-ganti lagu orang jadi lebih mau keluar rumah nengok jajanan apa yang sedang ditawarkan, hehehe…dan yang paling penting lagu yang diganti-ganti itu tidak membuat sinting abang yang jualan itu (itung-itung itu juga hak asasi manusia, hehehe). Aku aja bila dengar lagu itu jika mereka lewat dua kali di depan rumahku, pasti bisa ikutan senewen, hehehe, karena benar-benar musik usang seperti lagu-lagu jaman purba yang dijadikan lagu wajib dan diajarkan pada tiap orang yang baru gedhe, hehehe…kasian juga para abang itu yang terpaksa mendengarkan melodi itu sampe mungkin dah hafal diluar kepala, hehehe…
Regu keenam adalah regu penjaja roti sari roti, yang selalu lewat di pagi hari sambil membunyikan lagu suara anak kecil yang ngomongnya tidak jelas itu, sampe-sampe para sopirku pada ikut berpantun mirip dengan lagu itu tapi lucunya driver yang satu dan yang laennya nyanyi dengan lirik yang beda-beda karena yang nyanyi itu seperti kumur-kumur, hahaha. Idem dengan abang dari kategori keempat, pasti si penjaja roti sari ini pasti dikupingnya terngiang-ngiang lagu tidak bermutu itu dan setelah bertugas lebih dari sebulan, dianya jadi pelanggan acara dangdutan dengan lagu kucing garong, hehehe…
Kalo kita mendengar musik radio yang didengungkan dari gerobak penjaja keliling itu, maka itu pasti salah satu dari anggota perkumpulan peracik jamu tradisional door to door. Mereka biasanya berdagang obat-obat kuat dan food supplements laennya untuk memperkuat badan, menaekkan daya tahan tubuh, meningkatkan nafsu (makan) lelaki, de el el. Di komplex perumahanku sini, mereka biasa cangkrukan di pos satpam terdekat untuk ngerumpi ngomongi istri mereka di rumah yang bawel-bawel sambil memutar lagu-lagu dangdut beken yang lagi menduduki top ten indo dangdut chart versi radio Dungdat Nasional… hehehe… eh bukannya aku bilang lagu dangdut itu jelek lho, ada beberapa yang masi enak didengarkan. Bahkan lagu dangdut indo lebih merdu suaranya dan melodinya dibandingkan lagu-lagu daerah Jerman, hehehe…
Kontingen yang berikut adalah kontingen elit tukang satu ayam yang munculnya hanya sekitar suara adzan magrib yang dikumandangkan lewat pengeras suara dari masjid terdekat yang secara kebetulan selalu dipasang mengarah ke rumah di mana aku tinggal. Heran juga, entah dimanapun aku tinggal, secara kebetulan pasti ada satu loudspeaker yang mengarah ke rumahku, usut punya usut ternyata pengeras suara itu memang dipasang ke segala penjuru mata angin, supaya semua penduduk tanpa memandang bulu agama apa yang dianutnya dan tanpa pandang bulu bagaimana sulitnya kehidupan yang sedang dijalani, untuk selalu sadar kalo setidaknya lima kali dalam sehari kita harus bersujud pada Sang Pencipta guna berterima kasih atas kehidupan yang kita ini. Sebab Sang Pencipta-lah yang memelihara kita dan selalu mengasihi kita. Hmm… aku jadi ingat ada tebakan kenapa tuh corong pengeras suaranya masjid selalu dipasang jauh tinggi di atas menaranya. Jawabannya sangat mudah, bila sandal butut saja bisa hilang, apalagi loudspeaker yang mahal itu bilamana loudspeakernya diletakkan dibawah, hahaha…
Kembali kepada bang sate yang budiman itu, aku pribadi sangat senang mendengar teriakan tertahannya abang sate yang bunyinya “tee… tee…satee…” dengan mengingat kalo mereka itu berteriak dengan penuh semangat menjajakan jualan barbeque-nya yang berbau harum itu dan dijamin hampir tanpa zat-zat yang mempercepat pertumbuhan kanker dalam tubuh, hehehe… aku yang setiap tahunnya selalu mengadakan acara BBQ ama familiku tau bagaimana kita menghargai ketangkasan abang sate dalam mempersiapkan dan membakar bangkai ayam yang sudah dipotong kecil-kecil dan ditusuk rapi dengan sapu lidi itu dengan sedikit bagian yang gosong. Memang ada masa-masa suram dimana omzet mereka turun karena adanya isue daging yang dibakar bukan daging ayam kapung atau ayam horn melaenkan daging tikus pilihan. Ya itulah suka dukanya hidup seorang si jago barbeque, hehehe…
Kelompok yang terakhir, biasa keliling sambil bersepeda dan teriak-teriak “beeeng…rombeeeng…”. Nah seperti yang dikatakannya sendiri, tuh abang kelilingan cari barang rombeng alias barang usang, dia bersedia kasi kita beberatus rupiah untuk sebuah panci bocor, baju usang ataupun alat-alat rumah tangga laennya. Abang-abang ini biasa muncul di komplex ku sebulan sekali dan umumnya di hari minggu. Pernah satu masa dimana kami asik mengosongkan gudang dari barang-barang usang dan kebetulan si abang rombeng melihatnya, maka dia tidak sungkan-sungkan bertanya apa ada barang yang bisa dia beli. Alhasil kami berikan semuanya secara gratisan, (hanya bangkai tikus dan kecoa ngesot yang dia tidak mau, hehehe…), itung-itung tuh bapak membantu kami untuk membuang sampah, hehehe…sungguh mulia benernya jasa dia ini, karena telah meringankan tugas kami, mana gratis lagi, hehehe…
Penduduk baru kota buaya pasti kebingungan mendengar gangguan yang datang sepanjang hari melewati rumah idaman masa depan mereka, terutama bagi yang tinggal di komplex perumahan di Surabaya ini, tapi paling tidak sampe mereka tau kalo kota ini bukan hanya diramekan oleh para penjaja maeman keliling, tapi juga dimeriahkan oleh para pengamen yang hobinya mengancam-ngancam penduduk yang ga mau kasi sedekahan sambil bernyanyi dengan suara sumbang yang menceritakan kalo pacar sang penyanyi baru saja selingkuh “…o o o kamu ketauan, pacaran lagi, dengan si dia…”, pernah dengar ndak lagunya? Itu lho lagu dari Matta Band yang judulnya Ketauan dari albumnya yang berjudul Ketauan. Hehehe… Aku jadi ingat jaman orde baru dulu. Aku dulu sangat sering terbang ke Jakarta PP (pulang pergi). Nah di bandara Juanda dan di bandara Cengkareng itu sering kali kita dicegat sama wakil-wakil dari panitia PON (pekan olahraga nasional) atau dari PMI (palang merah Indonesia) atau dari organisasi yayasan-yayasan yang tidak jelas untuk dimintai sumbangan suka rela dengan jalan membeli kupon mereka. Padahal namanya suka rela, tapi kalo kita tidak bayar, kita tidak bole naek pesawat (boarding). Sangat ironis ya. Ya maklumlah pejabat di sini siapa sih yang masi bersih? Kan ada lagu dangdut yang intinya mengeluhkan kalo jaman sekarang ini jaman gila, siapa tidak ikut gila tidak akan kebagian, hehehe…Gimana mau mengurangi korupsi kalo pejabat-pejabat yang berwenang juga ikutan korupsi, senjata makan tuan khan namanya? Hehehe… tidak heran bila para pejabat negara itu pada kaya-kaya sedangkan rakyatnya menderita dan hidup serba kekurangan dan harus rela membanting tulang dengan segala suka rela demi sesuap nasi dan segenggam emas, hehehe… tapi ya itulah situasi sosial politik di negara ini…
Ngomongi pengamen, beberapa bulan yang silam, pas hari Kartini, para pembantu rumah tanggaku heboh, karena mereka kaget melihat ada banci berkebaya lengkap dengan sanggul yang lagi joget dangdutan di depan rumah sambil membawa sound sistem gedhe gitu, hanya untuk menanti pemberian uang sedekahan. Dah gitu dia pake pasang tarif mininum 500 rupiah segala lho, maklum banci ganjen itu khan sudah cape-cape menyeret tuh sound sistem high tech yang kemungkinan besar didapat dari pasar loak terdekat dan pasti uang hasil pendapatannya itu dipake untuk beli baterenya, hehehe… ya memang lah kita harus maklum, di Surabaya ini cari uang susah, jadi ya terpaksa “anything goes” seperti kata Frank Sinatra dalam salah satu lagu jazz nya yang tersohor. Selama orang tidak merampok orang laen, ya oke ajalah, tapi kalo tiba-tiba rumah kita kedatangan banci yang berprofesi pengamen gitu dan minta duitnya maksa banget dengan cara mengeraskan volume sound sistem bulukan nya, aku bilang sih sudah saatnya satpol PP (satuan polisi pamong praja) ikutan nimbrung, paling tidak untuk ikutan joget bareng-bareng si banci di depan pos satpam, supaya tidak digigit nyamuk-nyamuk yang juga ikutan dengan riangnya meminta sedekahan darah segar mereka itu, hehehe… sebel sekali aku liat ada banci ganjen dan joget di depan pagar rumah gitu…
Nah, selaen merasa diganggu ama para usahawan keliling kampong gitu, aku yakin kalo terkadang para penghuni juga merasakan membutuhkan kehadiran mereka lho. Coba bayangkan aja bila kita lagi susah, lagi melow gitu, khan ada enaknya mendengarkan lagu dangdut yang diputarkan secara gratis oleh penjaja keliling. Dijamin pendengar pasti ketawa deh bila membayangkan si penjaja es walls yang dikupingnya pasti terngiang-ngiang lagu es walls yang tersohor karena membunuh urat syaraf itu, hehehe…tapi kalo aku melow, tentu aku puter aja lagu-lagu jazz dari CD ku, maklum, gengsi donk!
Atau dalam kasus yang laen, bila hari sudah malam sedangkan kita malas untuk keluar mencari makan ataupun memasak sendiri, dan sudah bocen dengan masakan instan berlapis lilin seperti mie sedap instan, indomie ato supermie itu, maka satu-satunya penolong dalam kesulitan perut itu pastilah jasa sang penjaja keliling. Hehehe… lucunya aku yakin pasti sudah banyak orang yang mendapatkan pengalaman yang sama denganku, yaitu waiting for mie duk duk dan waiting for tahu tek, hehehe… apa itu? Ya jelas seperti yang bisa ditafsirkan dari kata-kata itu, kalo aku harus menunggu tanpa ujung kedatangan sang abang penjaja mie duk duk ataupun tahu tek, hehehe… heran dijaman modern gini kok mereka belon sadar akan perlu dan pentingnya teknologi komunikasi tanpa kabel ya? Hehehe…
Itu lho setidaknya semejak hadirnya operator Three di Surabaya beberapa bulan terakhir ini, mestinya mereka-mereka ini mulai memikirkan investasi yang menguntungkan di bidang telekomunikasi guna meningkatkan omzet penjualan mereka, hehehe… bagi yang belon kenal operator seluler berbasiskan GSM ini, Three menawarkan program isi ulang seperti isi bensin, jadi isi ulang bisa mulai dari seribu rupiah terus bisa dipilih dengan kelipatan seratus rupiah, hehehe… bukan promosi sih, tapi itu satu alternativ yang sangat bagus yang bisa segera ditiru oleh semua operator yang laen, biar meringankan kocek masing-masing individu yang sadar pentingnya bersosialisasi lewat komunikasi bisnis, hehehe…
Bayangkan andaikata pengurus paguyuban abang mie duk-duk, asosiasi penjual tahu tek, perkumpulan peracik jamu tradisional door to door, organisasi saudagar baso ikan ataupun komite nasional penjaja sate ayam itu mewajibkan anggotanya untuk memiliki telefon genggam dan melukiskan nomer hape nya di gerobak mereka, pasti deh mereka tidak perlu susah-susah keliling komplex perumahan. Jadi peminat gorengan mereka tinggal kirim SMS seperti “pak kami sudah mau mati kelaparan, tolong segera mampir ke blok JN nomer 4” dan dijamin dengan semangat empat lima sang pedagang pun tinggal segera menuju ke rumah sang pengirim SMS tersebut guna mendemonstrasikan keahliannya menggunting tahu ataupun melempar-lemparkan nasi ataupun mie goreng berminyak mereka ke udara. Aku yakin pasti inisiativ seperti itu pasti banyak pendukungnya…tentu saja asalkan dana untuk beli hapenya tersedia, hehehe…
Ya aku tau pasti banyak juga ahli-ahli ekonomie yang protest keras karena memakai jasa Three pastilah juga menguras kocek para peminat high tech tersebut, tapi tentu saja ada program-program laen misalnya dari Indosat dengan IM3 nya yang bisa dikombinasi dengan voucher panjang umur atau juga program dari XL dengan isi ulang yang cuman sepuluh ribu tapi dapet masa aktiv sebulan seperti juga Mentari dari Indosat, atau juga kartuAs yang untuk membiarkan aktiv hanya memerlukan uang lima ribu rupiah sebulan, hehehe… jadi adil nih semua operator sudah disebut di sini, hehehe…
Ya, ya. aku tau, pembaca yang kritis pasti segera protes, nanya napa bukan pake hape berteknik CDMA saja supaya komunikasi murah meriah, hehehe, tentu saja aku tau itu, tapi mana ada program dari golongan kartu CDMA yang menawarkan isi ulang nominal tertentu dengan imbalan masa aktiv sampe setaon seperti IM3? Belon ada khan? Ato mana ada operator CDMA yang menawarkan isi ulang lima ribu dengan masa aktiv sebulan penuh seperti kartuAS? Belon ada juga, makanya GSM itu pilihan yang tepat, hehehe…khususnya operator GSM Three yang menawarkan masa tenggang hingga tiga bulan (seperti kartu CDMA Starone), bandingkan saja dengan operator laen yang rata-rata masa tenggangnya hanya tiga puluh sampe empat puluh hari. Karenanya julukan kartu gakin (warga miskin) memang pantas diambil dari kartuAS dan diberikan dengan suka rela pada Three dengan program isi ulang seperti di pom bensin itu, hehehe…
Yah begitulah kisah hubungan tahu tek dan high tech, hehehe…
Harvey Maleholo adalah penyanyi kawakan Indonesia yang telah menyanyikan banyak lagu-lagu yang bermelodikan tenang dan dilengkapi dengan lirik berbasis puisi. Memang lagu-lagu jenis balada ini sangat cocok untuk didendangkan oleh Harvey. Seperti juga lagu Bila Kau Seorang Diri yang liriknya kusertakan dibawah ini…
Bila kau seorang diri
Jangan kau bersedih
bila kau seorang diri
kuingin menemani
Kan kuceritakan tentang
sekuntum mawar merah
kan kunyanyikan lagu
tentang asmara
Bila kau seorang diri
tanya pada hatimu
walau kau seorang diri
aku kan menemani
Masi ada di sana
segelas anggur merah
biarkan bercerita
tentang dunia
Apa saja yang ada dihatimu
aku tak tahu
apa saja yang ada dihatiku
engkau tak tahu
Kau duduk di sana
kududuk di sini, menyepi
dari dunia ini
yang takkan peduli
Nyanyikan saja lagu
tentang gereja tua
bukannya lagu tentang
engkau dan aku
Masi ada di sana
segelas anggur merah
biarkan bercerita
tentang dunia
Apa saja yang ada dihatimu
aku tak tahu
apa saja yang ada dihatiku
engkau tak tahu
Kau duduk di sana
kududuk di sini, menyepi
dari dunia ini
yang takkan peduli
Nyanyikan saja lagu
tentang gereja tua
bukannya lagu tentang
engkau dan aku
Cuaca: panas dan berawan
Snack : mie duk-duk
Song : lagi dengar Metro FM Surabaya
Genre : bervariasi
Tanggal : 1 September 2007
Dedikasi : Swandi alias ibu Angsa
Sejak aku mudik dari Jerman dan memutuskan ngendon di Surabaya ini, aku jadi teringat ama kebiasaan lama sewaktu aku masi kecil, yaitu cangkruk menunggu datangnya penjaja keliling di komplex-komplex perumahan yang memakai rombong, yach semacam PKL lah (pedagang kaki lima). Ada beberapa jenis dari mereka. Jenis yang pertama adalah jenis orang-orang yang jualan mie goreng dan nasi goreng, mereka pada umumnya memukul bambu yang dilobangi sehingga terdengar bunyi duk… duk... duk… duk…seperti bedug saur itu…yang bagi beberapa orang di Indonesia sudah tidak asing lagi didengar karena bisa membantu membangunkan orang dari alam mimpi-mimpi yang indah dengan tidak suka rela…
Golongan kedua adalah bapak-bapak yang berkeliling menjajakan sajian khas kota buaya ini, yaitu tau tek. Disebut tahu tek karena mereka memukul wajan penggorengan mereka yang biasanya sudah sangat item seperti tidak pernah kenal air sabun pembersih saja, sehingga suaranya sumbang teng… teng… teng… hahaha…memang biasanya orang berpikiran kalo nama tahu tek itu berasal dari suara wajan item itu yang tepinya sudah tak berbentuk dipukul-pukul dengan riangnya tiap hari. Tapi andaikata begitu, maka namanya harusnya “tahu teng“ donk, bukan “tahu tek“, hehehe… Untungnya ada beberapa orang lebih pinter yang bilang nama tersebut didapat dari suara gunting yang dipake untuk menggunting tahu goreng tersebut, sehingga bunyinya tek.. tek.. tek.. tek.. Hmm…aku sendiri ga tau mau ikut grup yang mana yang penggemar mukul-mukul wajan atau yang rajin memainkan alat pangkas rambut itu, yang jelas rasanya lumayanlah…terutama kalo dimakan disaat kita lagi kelaparan, hahaha…
Sedangkan golongan ketiga adalah golongan mas-mas yang berjualan baso atau bakwan sambil membunyikan suara tek… tek… tek… Hehehe… jadi jangan tertukar, yang jualan tahu tek itu bunyinya teng… teng… teng… sedangkan yang bunyinya tek… tek… tek… malah jualan baso ato bakwan. Hahaha… nah mas-mas ini dulunya abang-abang becak yang dimutasi menjadi penjual baso dan bakwan, karena itu rombong mereka bermodel becak, hehehe…mereka ini biasanya menjual dagangannya berdasarkan berapa biji baso/bakwan, gorengan, tahu dan siomai nya, jadi kuahnya gratis, hehehe… kalo kita kreativ, maka kita kalo beli baso/bakwan ini, minta kuah yang banyak, karena gratis, hehehe… terus kita tinggal beli baso/bakwan sendiri di supermarket terdekat dan hanya butuh di rebus dalam air kuah punya mas nya itu yang dijamin sudah dibumbui, hahaha… jadi itung-itung kita dapet baso extra, hehehe, tanpa susah payah bikin kuahnya…
Sementara golongan keempat adalah saudagar baso ikan yang memakai bel sepeda yang bunyinya toeet… toeet… toeet…Nah makanan khas si bapak penjaja yang satu ini biasanya hanya bisa dinikmati sama pelanggan-pelanggan setia yang bisa gerak cepat, maksudnya, kalo mau cegat makanan yang satu ini orang harus berlari-lari mengejar. Napa? Bukan karena bapak-bapak itu pelatih fitnes bersertifikat yang kerjanya di balai kelurahan terdekat, tapi karena bapak-bapak itu memakai sepeda yang dirombak menjadi tempat jualan. Gimana cara ngejar bapak-bapak yang bersepeda dengan cepat itu seperti tidak niat jualan tapi hanya berniat iming-iming aja? Ya, tepat! Sang peminat yang sudah kelaparan harus berlari-lari keluar rumah sambil berteriak-teriak seperti orang yang sedang kelaparan (ya emang khan?) “pak… pak… pak… pak…” Hmm… tapi kalo dipikir ulang, benar juga ya, yang dijajakan itu baso ikan yang logisnya dibuat dari ikan (tapi hanya yang asli lho) dan semua tau kalo untuk menangkap ikan itu orang harus gerak cepat. Cara terbaek untuk belajar menangkap ikan, ya bila kita ada dikit uang sisa dari jatah belajaan bulanan untuk beli tiket, nebus visa dan bayar akomodasi di Canada, maka kita bisa banyak belajar dari beruang coklat besar yang idup dan bersosialisasi di sana, beruang grizzli yang terkenal garang dan suka maem ikan salmon yang berdaging merah muda itu. Hehehe…Tapi kalo kita lagi bokek, ya kita nonton aja TVRI tiap hari, sapa tau kita beruntung dan bisa liat tayangan ilmu pengetauan tentang beruang grizzli dan habitatnya, hahaha…siapa sih yang di jaman ini masi nonton TVRI kecuali aku, hahaha…
Kategori kelima itu adalah abang-abang penjaja es walls yang biasanya memakai becak bercat putih pudar dan memutar lagu khas walls yang tidak pernah diganti-ganti itu. Ya iyalah, kalo diganti-ganti khan orang jadi bingung, makanan apa pula itu yang ditawarkan si abang, hahaha, tapi bila dipertimbangkan ulang, mungkin dengan ganti-ganti lagu orang jadi lebih mau keluar rumah nengok jajanan apa yang sedang ditawarkan, hehehe…dan yang paling penting lagu yang diganti-ganti itu tidak membuat sinting abang yang jualan itu (itung-itung itu juga hak asasi manusia, hehehe). Aku aja bila dengar lagu itu jika mereka lewat dua kali di depan rumahku, pasti bisa ikutan senewen, hehehe, karena benar-benar musik usang seperti lagu-lagu jaman purba yang dijadikan lagu wajib dan diajarkan pada tiap orang yang baru gedhe, hehehe…kasian juga para abang itu yang terpaksa mendengarkan melodi itu sampe mungkin dah hafal diluar kepala, hehehe…
Regu keenam adalah regu penjaja roti sari roti, yang selalu lewat di pagi hari sambil membunyikan lagu suara anak kecil yang ngomongnya tidak jelas itu, sampe-sampe para sopirku pada ikut berpantun mirip dengan lagu itu tapi lucunya driver yang satu dan yang laennya nyanyi dengan lirik yang beda-beda karena yang nyanyi itu seperti kumur-kumur, hahaha. Idem dengan abang dari kategori keempat, pasti si penjaja roti sari ini pasti dikupingnya terngiang-ngiang lagu tidak bermutu itu dan setelah bertugas lebih dari sebulan, dianya jadi pelanggan acara dangdutan dengan lagu kucing garong, hehehe…
Kalo kita mendengar musik radio yang didengungkan dari gerobak penjaja keliling itu, maka itu pasti salah satu dari anggota perkumpulan peracik jamu tradisional door to door. Mereka biasanya berdagang obat-obat kuat dan food supplements laennya untuk memperkuat badan, menaekkan daya tahan tubuh, meningkatkan nafsu (makan) lelaki, de el el. Di komplex perumahanku sini, mereka biasa cangkrukan di pos satpam terdekat untuk ngerumpi ngomongi istri mereka di rumah yang bawel-bawel sambil memutar lagu-lagu dangdut beken yang lagi menduduki top ten indo dangdut chart versi radio Dungdat Nasional… hehehe… eh bukannya aku bilang lagu dangdut itu jelek lho, ada beberapa yang masi enak didengarkan. Bahkan lagu dangdut indo lebih merdu suaranya dan melodinya dibandingkan lagu-lagu daerah Jerman, hehehe…
Kontingen yang berikut adalah kontingen elit tukang satu ayam yang munculnya hanya sekitar suara adzan magrib yang dikumandangkan lewat pengeras suara dari masjid terdekat yang secara kebetulan selalu dipasang mengarah ke rumah di mana aku tinggal. Heran juga, entah dimanapun aku tinggal, secara kebetulan pasti ada satu loudspeaker yang mengarah ke rumahku, usut punya usut ternyata pengeras suara itu memang dipasang ke segala penjuru mata angin, supaya semua penduduk tanpa memandang bulu agama apa yang dianutnya dan tanpa pandang bulu bagaimana sulitnya kehidupan yang sedang dijalani, untuk selalu sadar kalo setidaknya lima kali dalam sehari kita harus bersujud pada Sang Pencipta guna berterima kasih atas kehidupan yang kita ini. Sebab Sang Pencipta-lah yang memelihara kita dan selalu mengasihi kita. Hmm… aku jadi ingat ada tebakan kenapa tuh corong pengeras suaranya masjid selalu dipasang jauh tinggi di atas menaranya. Jawabannya sangat mudah, bila sandal butut saja bisa hilang, apalagi loudspeaker yang mahal itu bilamana loudspeakernya diletakkan dibawah, hahaha…
Kembali kepada bang sate yang budiman itu, aku pribadi sangat senang mendengar teriakan tertahannya abang sate yang bunyinya “tee… tee…satee…” dengan mengingat kalo mereka itu berteriak dengan penuh semangat menjajakan jualan barbeque-nya yang berbau harum itu dan dijamin hampir tanpa zat-zat yang mempercepat pertumbuhan kanker dalam tubuh, hehehe… aku yang setiap tahunnya selalu mengadakan acara BBQ ama familiku tau bagaimana kita menghargai ketangkasan abang sate dalam mempersiapkan dan membakar bangkai ayam yang sudah dipotong kecil-kecil dan ditusuk rapi dengan sapu lidi itu dengan sedikit bagian yang gosong. Memang ada masa-masa suram dimana omzet mereka turun karena adanya isue daging yang dibakar bukan daging ayam kapung atau ayam horn melaenkan daging tikus pilihan. Ya itulah suka dukanya hidup seorang si jago barbeque, hehehe…
Kelompok yang terakhir, biasa keliling sambil bersepeda dan teriak-teriak “beeeng…rombeeeng…”. Nah seperti yang dikatakannya sendiri, tuh abang kelilingan cari barang rombeng alias barang usang, dia bersedia kasi kita beberatus rupiah untuk sebuah panci bocor, baju usang ataupun alat-alat rumah tangga laennya. Abang-abang ini biasa muncul di komplex ku sebulan sekali dan umumnya di hari minggu. Pernah satu masa dimana kami asik mengosongkan gudang dari barang-barang usang dan kebetulan si abang rombeng melihatnya, maka dia tidak sungkan-sungkan bertanya apa ada barang yang bisa dia beli. Alhasil kami berikan semuanya secara gratisan, (hanya bangkai tikus dan kecoa ngesot yang dia tidak mau, hehehe…), itung-itung tuh bapak membantu kami untuk membuang sampah, hehehe…sungguh mulia benernya jasa dia ini, karena telah meringankan tugas kami, mana gratis lagi, hehehe…
Penduduk baru kota buaya pasti kebingungan mendengar gangguan yang datang sepanjang hari melewati rumah idaman masa depan mereka, terutama bagi yang tinggal di komplex perumahan di Surabaya ini, tapi paling tidak sampe mereka tau kalo kota ini bukan hanya diramekan oleh para penjaja maeman keliling, tapi juga dimeriahkan oleh para pengamen yang hobinya mengancam-ngancam penduduk yang ga mau kasi sedekahan sambil bernyanyi dengan suara sumbang yang menceritakan kalo pacar sang penyanyi baru saja selingkuh “…o o o kamu ketauan, pacaran lagi, dengan si dia…”, pernah dengar ndak lagunya? Itu lho lagu dari Matta Band yang judulnya Ketauan dari albumnya yang berjudul Ketauan. Hehehe… Aku jadi ingat jaman orde baru dulu. Aku dulu sangat sering terbang ke Jakarta PP (pulang pergi). Nah di bandara Juanda dan di bandara Cengkareng itu sering kali kita dicegat sama wakil-wakil dari panitia PON (pekan olahraga nasional) atau dari PMI (palang merah Indonesia) atau dari organisasi yayasan-yayasan yang tidak jelas untuk dimintai sumbangan suka rela dengan jalan membeli kupon mereka. Padahal namanya suka rela, tapi kalo kita tidak bayar, kita tidak bole naek pesawat (boarding). Sangat ironis ya. Ya maklumlah pejabat di sini siapa sih yang masi bersih? Kan ada lagu dangdut yang intinya mengeluhkan kalo jaman sekarang ini jaman gila, siapa tidak ikut gila tidak akan kebagian, hehehe…Gimana mau mengurangi korupsi kalo pejabat-pejabat yang berwenang juga ikutan korupsi, senjata makan tuan khan namanya? Hehehe… tidak heran bila para pejabat negara itu pada kaya-kaya sedangkan rakyatnya menderita dan hidup serba kekurangan dan harus rela membanting tulang dengan segala suka rela demi sesuap nasi dan segenggam emas, hehehe… tapi ya itulah situasi sosial politik di negara ini…
Ngomongi pengamen, beberapa bulan yang silam, pas hari Kartini, para pembantu rumah tanggaku heboh, karena mereka kaget melihat ada banci berkebaya lengkap dengan sanggul yang lagi joget dangdutan di depan rumah sambil membawa sound sistem gedhe gitu, hanya untuk menanti pemberian uang sedekahan. Dah gitu dia pake pasang tarif mininum 500 rupiah segala lho, maklum banci ganjen itu khan sudah cape-cape menyeret tuh sound sistem high tech yang kemungkinan besar didapat dari pasar loak terdekat dan pasti uang hasil pendapatannya itu dipake untuk beli baterenya, hehehe… ya memang lah kita harus maklum, di Surabaya ini cari uang susah, jadi ya terpaksa “anything goes” seperti kata Frank Sinatra dalam salah satu lagu jazz nya yang tersohor. Selama orang tidak merampok orang laen, ya oke ajalah, tapi kalo tiba-tiba rumah kita kedatangan banci yang berprofesi pengamen gitu dan minta duitnya maksa banget dengan cara mengeraskan volume sound sistem bulukan nya, aku bilang sih sudah saatnya satpol PP (satuan polisi pamong praja) ikutan nimbrung, paling tidak untuk ikutan joget bareng-bareng si banci di depan pos satpam, supaya tidak digigit nyamuk-nyamuk yang juga ikutan dengan riangnya meminta sedekahan darah segar mereka itu, hehehe… sebel sekali aku liat ada banci ganjen dan joget di depan pagar rumah gitu…
Nah, selaen merasa diganggu ama para usahawan keliling kampong gitu, aku yakin kalo terkadang para penghuni juga merasakan membutuhkan kehadiran mereka lho. Coba bayangkan aja bila kita lagi susah, lagi melow gitu, khan ada enaknya mendengarkan lagu dangdut yang diputarkan secara gratis oleh penjaja keliling. Dijamin pendengar pasti ketawa deh bila membayangkan si penjaja es walls yang dikupingnya pasti terngiang-ngiang lagu es walls yang tersohor karena membunuh urat syaraf itu, hehehe…tapi kalo aku melow, tentu aku puter aja lagu-lagu jazz dari CD ku, maklum, gengsi donk!
Atau dalam kasus yang laen, bila hari sudah malam sedangkan kita malas untuk keluar mencari makan ataupun memasak sendiri, dan sudah bocen dengan masakan instan berlapis lilin seperti mie sedap instan, indomie ato supermie itu, maka satu-satunya penolong dalam kesulitan perut itu pastilah jasa sang penjaja keliling. Hehehe… lucunya aku yakin pasti sudah banyak orang yang mendapatkan pengalaman yang sama denganku, yaitu waiting for mie duk duk dan waiting for tahu tek, hehehe… apa itu? Ya jelas seperti yang bisa ditafsirkan dari kata-kata itu, kalo aku harus menunggu tanpa ujung kedatangan sang abang penjaja mie duk duk ataupun tahu tek, hehehe… heran dijaman modern gini kok mereka belon sadar akan perlu dan pentingnya teknologi komunikasi tanpa kabel ya? Hehehe…
Itu lho setidaknya semejak hadirnya operator Three di Surabaya beberapa bulan terakhir ini, mestinya mereka-mereka ini mulai memikirkan investasi yang menguntungkan di bidang telekomunikasi guna meningkatkan omzet penjualan mereka, hehehe… bagi yang belon kenal operator seluler berbasiskan GSM ini, Three menawarkan program isi ulang seperti isi bensin, jadi isi ulang bisa mulai dari seribu rupiah terus bisa dipilih dengan kelipatan seratus rupiah, hehehe… bukan promosi sih, tapi itu satu alternativ yang sangat bagus yang bisa segera ditiru oleh semua operator yang laen, biar meringankan kocek masing-masing individu yang sadar pentingnya bersosialisasi lewat komunikasi bisnis, hehehe…
Bayangkan andaikata pengurus paguyuban abang mie duk-duk, asosiasi penjual tahu tek, perkumpulan peracik jamu tradisional door to door, organisasi saudagar baso ikan ataupun komite nasional penjaja sate ayam itu mewajibkan anggotanya untuk memiliki telefon genggam dan melukiskan nomer hape nya di gerobak mereka, pasti deh mereka tidak perlu susah-susah keliling komplex perumahan. Jadi peminat gorengan mereka tinggal kirim SMS seperti “pak kami sudah mau mati kelaparan, tolong segera mampir ke blok JN nomer 4” dan dijamin dengan semangat empat lima sang pedagang pun tinggal segera menuju ke rumah sang pengirim SMS tersebut guna mendemonstrasikan keahliannya menggunting tahu ataupun melempar-lemparkan nasi ataupun mie goreng berminyak mereka ke udara. Aku yakin pasti inisiativ seperti itu pasti banyak pendukungnya…tentu saja asalkan dana untuk beli hapenya tersedia, hehehe…
Ya aku tau pasti banyak juga ahli-ahli ekonomie yang protest keras karena memakai jasa Three pastilah juga menguras kocek para peminat high tech tersebut, tapi tentu saja ada program-program laen misalnya dari Indosat dengan IM3 nya yang bisa dikombinasi dengan voucher panjang umur atau juga program dari XL dengan isi ulang yang cuman sepuluh ribu tapi dapet masa aktiv sebulan seperti juga Mentari dari Indosat, atau juga kartuAs yang untuk membiarkan aktiv hanya memerlukan uang lima ribu rupiah sebulan, hehehe… jadi adil nih semua operator sudah disebut di sini, hehehe…
Ya, ya. aku tau, pembaca yang kritis pasti segera protes, nanya napa bukan pake hape berteknik CDMA saja supaya komunikasi murah meriah, hehehe, tentu saja aku tau itu, tapi mana ada program dari golongan kartu CDMA yang menawarkan isi ulang nominal tertentu dengan imbalan masa aktiv sampe setaon seperti IM3? Belon ada khan? Ato mana ada operator CDMA yang menawarkan isi ulang lima ribu dengan masa aktiv sebulan penuh seperti kartuAS? Belon ada juga, makanya GSM itu pilihan yang tepat, hehehe…khususnya operator GSM Three yang menawarkan masa tenggang hingga tiga bulan (seperti kartu CDMA Starone), bandingkan saja dengan operator laen yang rata-rata masa tenggangnya hanya tiga puluh sampe empat puluh hari. Karenanya julukan kartu gakin (warga miskin) memang pantas diambil dari kartuAS dan diberikan dengan suka rela pada Three dengan program isi ulang seperti di pom bensin itu, hehehe…
Yah begitulah kisah hubungan tahu tek dan high tech, hehehe…
Harvey Maleholo adalah penyanyi kawakan Indonesia yang telah menyanyikan banyak lagu-lagu yang bermelodikan tenang dan dilengkapi dengan lirik berbasis puisi. Memang lagu-lagu jenis balada ini sangat cocok untuk didendangkan oleh Harvey. Seperti juga lagu Bila Kau Seorang Diri yang liriknya kusertakan dibawah ini…
Bila kau seorang diri
Jangan kau bersedih
bila kau seorang diri
kuingin menemani
Kan kuceritakan tentang
sekuntum mawar merah
kan kunyanyikan lagu
tentang asmara
Bila kau seorang diri
tanya pada hatimu
walau kau seorang diri
aku kan menemani
Masi ada di sana
segelas anggur merah
biarkan bercerita
tentang dunia
Apa saja yang ada dihatimu
aku tak tahu
apa saja yang ada dihatiku
engkau tak tahu
Kau duduk di sana
kududuk di sini, menyepi
dari dunia ini
yang takkan peduli
Nyanyikan saja lagu
tentang gereja tua
bukannya lagu tentang
engkau dan aku
Masi ada di sana
segelas anggur merah
biarkan bercerita
tentang dunia
Apa saja yang ada dihatimu
aku tak tahu
apa saja yang ada dihatiku
engkau tak tahu
Kau duduk di sana
kududuk di sini, menyepi
dari dunia ini
yang takkan peduli
Nyanyikan saja lagu
tentang gereja tua
bukannya lagu tentang
engkau dan aku
Saturday, November 3, 2007
Hujan Lagi Hujan Lagi Hujan Lagi Basah Semua
Mood : lagi mengenang
Cuaca: lagi ujan nih, deras sekali…
Snack : menikmati teh jasmin yang masi hangat
Song : lagi dengar lagunya Andra and the Backbone
Genre : slow
Tanggal : 3 November 2007
Dedikasi : Ellyawati di Kelantan
Seharian aku mengunjungi pameran computer Scomdex XVII yang diselenggarakan di Jatim Expo di jalan Ahmad Yani Surabaya. Kadang aku heran aja, ada apa sih dengan si Jendral Ahmad Yani itu? Napa di seluruh kota besar di Indonesia ini, salah satu jalan utamanya selalu diberi nama Ahmad Yani? Sampe-sampe ada orang tua yang mau memberi nama anaknya dengan nama Ahmad Dani yang pastinya diplesetkan dari nama sang jendral tersebut, hehehe… ya udahlah itu juga politik dari jama orba. Ngapain pusing, lagian kita khan tidak punya hak memberi nama jalan, paling juga punya hak untuk memberi nama pada anak kita sendiri, hehehe, dengan catatan kita mampu untuk mempunyai anak sendiri, hahaha…
Yah pameran hari ini memang tidak sebesar yang biasa digelar di hall nya punya AJBS. Tapi rupanya tendensi dari penjualan komputer bergeser dari tipe computer desktop alias computer rumah yang besar dan beratnya amit-amit tersebut ke arah portable computer (computer jinjing) yang imut-imut dan jelas lebih ringan. Perbandingan beratnya lumayan lho. Untuk desktop computer kira-kira beratnya sepuluh kilo (kalo tidak percaya bole ditimbang sendiri tuh rumah dan monitornya, juga keyboard dan tikusnya sekalian) sedangkan portable computer yang biasa disebut dengan istilah laptop (atau juga dikenal dengan istilah notebook untuk wilayah Eropa) hanya mempunyai berat sekitar dua sampai tiga kilo saja. Ada sih seperti Hewlett Packard Pavillion Series yang beratnya mencapai tujuh kilo dengan layar wide screen tujuh belas inci, tetapi tidak masuk ke pasar Indonesia.
Seperti juga ramai diberitakan di koran-koran lokal, tendensi pembelian perangkat computer sudah beralih ke computer berdimensi mini. Mulai dari hape berjenis communicator maupun PDA (personal digital assistant), sampai ke laptop dan mini Apple computer. Tetapi aku tidak meliat satu stand dari Apple computer, melainkan hanya stand-stand besar yang dimiliki oleh vendor-vendor lokal seperti A-Note, Zyrex dan Axioo, maupun vendor yang bersifat internasional seperti Fujitsu Siemens, Toshiba, Sony, Acer maupun Hewlett Packard. Demikian juga aku temukan banyak penjual aksesoris computer seperti monitor untuk computer baek yang berdimensi raksasa seperti jenis-jenis CRT (cathode ray tube) maupun yang berjenis flat alias TFT (thin film transistor). Di samping itu aku juga liat banyak vendor dari laser printer dan ink jet printer yang terwakili disana, walau sayangnya dot matrix printer sudah tidak kutemukan lagi disana, padahal printer jenis ini masi digunakan oleh kalangan tertentu untuk membuat tembusan dan juga di ruangan-ruangan bebas debu (clean room) untuk memproduksi tinta mapun perangkat-perangkat elektronik laennnya. Juga pernak pernik computer seperti USB hub, modem modules, memory modules seperti RAM, SD Card baek mini, mikro, MMC mapun yang sederhana, bahkan Compact Flash dan USB flashdisk juga ada. Kemudian kuliat keyboard, mouse, sampai ke perangkat isi ulang tinta printer dan berbagai jenis kertas untuk printer maupun untuk fax juga ditawarkan di sana. Pokoknya termasuk komplet tuh pameran, walau tidak sekomplet bila digelar di AJBS, mungkin juga karena kendala luasnya ruang pameran.
Singkatnya aku menghabiskan waktuku di sana untuk meninjau lokasi, maklum aku baru pertama kalinya kesana, dan juga untuk melihat-lihat dari dekat segala jenis barang-barang baru yang aku mungkin belon pernah lihat sebelonnya. Yah itu namanya menghargai inovasi, hehehe… dibandingkan dengan pameran biasa di AJBS, Scomdex ke tujuh belas ini tidak terlalu rame dikunjungin masyarakat, walau tiket masuknya hanya dua ribu perak saja. Tidak tau kenapa, mungkin juga lokasi Jatim Expo yang agak kurang strategis dan juga lapangan parkir yang tidak memadai untuk jenis pameran ini, sehingga banyak orang harus memarkir mobilnya di luar lokasi gedung. Ditambah pula dengan kenyataan cuaca yang mendung, sehingga membuat orang agak ogah mengunjungin Scomdex ini. Maklumlah, bila tiba-tiba turun hujan, sedangkan mobil diparkir di luar gedung, maka pasti repot pulalah untuk masuk ataupun keluar gedung. Kesanku dari segi kepanitiaan lumayan bagus dan terorganisir, bahkan lebih mudah dinalar dimana tempat apa dijual, bila dibandingkan dengan ruangan punya AJBS. Di AJBS bentuk ruangannya khan lebih mengarah ke bentuk segi empat sama sisi, sedangkan di Jatim Expo ini berbentuk persegi panjang. Juga karena faktor luas dari Jatim Expo yang lebih kecil ini, maka tidak banyak yang bisa dipamerkan disana.
Apakah arti dari sebuah pameran bila tidak dilengkapi dengan ratusan SPG (sales promotion girls)? Ya betol sekali. Aku melihat, para SPG yang dipilih untuk ikut meramaikan pameran Scomdex kali ini lumayan ramah-ramah dan bukan tipe orang-orang yang menjijikan seperti biasa kutemui di banyak pameran-pameran. Juga banyak dari store manager yang hadir sendiri di pameran kali ini dan juga banyak teknisi ahli yang bisa memuaskan rasa ingin tauku dengan knowhow mereka. Aku paling sebel bila aku datang ke suatu pameran atau juga ke salah satu toko elektronik dimana SO (sales officer) nya tidak tau apa-apa. Makanya aku lebih menyukai berkunjung ke pameran-pameran bila ingin membeli sesuatu. Bukan hanya harga barang di pameran itu biasanya harga diskon, namun di pameran itu kita bisa belajar sesuatu, tidak mesti sih, tapi kebanyakan. Pengalaman baek kudapat dari teknisi Axioo yang berhasil menjelaskan dan mendemonstrasikan kemampuannya tanpa ada rasa sombong sama sekali terhadapku. Tapi mungkin juga dia sadar kalo ilmu computer nya masi kalah jauh dariku, hahaha. Narsis sedikit juga boleh khan? Tidak ada yang melarang kok, hahaha. Dia bahkan sangat berterima kasih padaku untuk setiap kali aku betulkan dari kesalahan yang dibuatnya. Yah, kadang orang juga bisa belajar dari pengunjung pameran seperti aku, hahaha….
Yang menarik itu, ada inovasi baru yang diberi nama PC Station. Fungsinya untuk menduplikasi computer yang ada lengkap dengan software-software yang sudah terinstall. Jadi kita tidak perlu membeli computer kedua, namun cukup hanya dengna membeli modul yang ditawarkannya seharga sembilan ratus lima puluh ribu perak, plus monitor, keyboard, dan mouse saja. Maka kita sudah mempunyai dua computer yang identis. Hanya saja SPM (sales promotion man) nya tidak mengerti tentang dasar hukumnya. Maklum di dalam EULA (end user licence agreement) itu biasanya tertulis software itu hanya bole digunakan oleh satu orang saja pada saat bersamaan. Jadi ya belon jelas gimana regulasinya bila PC Station ini digunakan di perkantoran maupun di pabrik-pabrik. Waktu itu ada salah seorang wakil sebuah perkantoran yang ditugaskan atasannya untuk mencari solusi murah dalam hal penggunaan software di beberapa computer. Dia ikutan nimbrung dari diskusi yang kumulai dengan si SPM yang ngakunya dari Jakarta namun usut punya usut tidak sampai kusut, ternyata dari Pontianak. Jelas aja logat bicara orang Kalimantan khan khas sekali, mana mungkin bisa ditutupin, hehehe…PC Station ini harus kuakui merupakan salah satu solusi untuk bidang perkantoran. Maklum aja, di jaman modern gini computer tidak bisa dilenyapkan begitu mudah dari sebuah kantor, hehehe…sudah merupakan kebutuhan vital dari sebuah kantor. Untuk lisensi aku juga sudah memberikan nasehat pada sang bapak IT manager yang lagi berbingung ria itu, yaitu mereka hendaknya membeli yang namanya Site Licence dan bukan Single Licence. Karena pada dasarnya Site Licence itu jauh lebih murah dibandingkan dengan Single Licence. Sama seperti pernah kuanjurkan kepada Hartanto temanku sewaktu masi kuliah di STTS dulu dan yang sekarang sudah menjadi asisten manager IT di sebuah pabrik di Gresik. Dia juga kontak aku untuk mencari solusi software yang murah.
Memang sih lebih baek kita memakai software yang asli. Sehingga bagian humas kita tidak selalu menyediakan amplop untuk para polisi rese yang hobinya memeras rakyat kecil itu, hehehe…juga hati nurani kita jadi lebih plong bila kita menggunakan barang yang legal. Tapi itu ya terserah kebijakan bos-bos kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan tersebut sendiri. Pembajakan software dengan alasan mahal sebenarnya tidak dapat kutoleransi karena ada juga software gratisan seperti sistem operasi Linux dan open office dari Sun Microsystem yang bisa kita download seenak kita, ataupun bisa kita beli dari vendor-vendor hardware. Maklumlah koneksi internet di Indonesia khan terkenal sangat lambat, malahan penyebarluasan gosip selebritis jauh lebih cepat, hehehe….
Sepulangnya dari pameran tersebut, tiba-tiba salah satu hapeku berbunyi menandakan masuknya sebuah pesan singkat dari temanku semasa SMA Elly. Setelah kubuka maka akupun terkejut. Kuliat di sana ada tertulis dia minta dihitungkan sebuah persoalan dengan limit. Ya itu lho limit yang ada di matematika jaman bahula itu lho. Ngapain coba si Elly ini tiba-tiba tidak ada angin dan tidak ada hujan, berhubungan dengan matematika? Lantas akupun telefon dia dan barulah setelah dijelaskan akupun mengerti. Dia hanya ingin menyakinkan dirinya sendiri, bila untuk menyelesaikan soal matematika kita harus belajar dulu. Laen halnya dengan membaca kitab suci. Hanya itu sih, hahaha. Lucu juga si Elly ini. Dia lagi hepi karena sekarang dia bole ikutan dalam kegiatan pelayanan yang berhubungan dengan mengasuh anak kecil. Ya si Elly ini memang sangat sayang anak kecil. Aku aja heran kenapa dia tidak mau menikah ya? Tapi seperti ada kutulis dalam karanganku yang lalu, menikah itu juga pilihan hati. Jadi ya itu juga murni urusan dia.
Sewaktu ngoceh-ngoceh sama dia dengan asiknya di telefon, terdengar suara gemuruh guntur di luar. Pertanda mau hujan, dan tak lama kemudian benarlah turun hujan di sekitarku. Karena aku tinggalnya di Surabaya Selatan dan Elly di Surabaya Utara, maka turun hujannya secara kebetulan tidak bersamaan. Hehehe… kalo mau bersamaan ya urusan langit donk, hahaha… Elly pun cepat-cepat pamit karena dia harus mandi dulu sebelon turun hujun. Nah lho, napa? Ternyata bila turun hujan rumahnya dia ikutan tenggelam alias banjir. Paling tidak air selokannya bisa naek dan itu akan menghindarkannya dari acara mandi. Hehehe. Kasian juga si Elly, ternyata rumahnya langganan banjir dan bila banjir, pasti deh masuk ke dalam rumahnya. Walah-walah, sadis amat. Untung aja dia ada tingkat kedua, jadi semua barang berharganya bisa diungsikan ke atas. Paling tidak itu yang kubayangkan, hehehe…
Ya tapi bole dikata enam puluh persen dari pemukiman penduduk di Surabaya ini banjir bila hujan turun dengan derasnya. Juga di daerahku. Untungnya sampe sekarang aku belon pernah merasakan air hujan masuk rumah sejak kami pindah dari Kapasari taon 1986 lalu. Parah memang bila banjir. Kecoa ngesot pada muncul semua, belon juga binatang kaki seribu dan juga puluhan binatang dan ulat air laennya. Kadang juga ada ular lho, sungguh menjijikan. Tapi ya itulah Indonesia, para pejabatnya rajin korupsi sementara rakyatnya tinggal di perumahan yang tergenang air. Bukan hanya di kota-kota kecil yang bisa banjir, bahkan di ibukotapun juga bisa kebanjiran. Sampai istana negara kapan hari khan juga ikutan tergenang air hujan. Dari BMG (badan meteorologi dan geofisika) dilaporkan kalo curah hujan tertinggi akan dicapai dibulan Januari dan Februari 2008. Alhasil banjir bandang pasti akan melanda ibukota lagi tuh, hehehe… kita-kita yang tidak tinggal di ibukota sih kagak peduli, itu juga urusan mereka, hehehe….
Ya itulah situasinya dibulan November ini, banjir sudah mengancam, also be aware!
Cuaca: lagi ujan nih, deras sekali…
Snack : menikmati teh jasmin yang masi hangat
Song : lagi dengar lagunya Andra and the Backbone
Genre : slow
Tanggal : 3 November 2007
Dedikasi : Ellyawati di Kelantan
Seharian aku mengunjungi pameran computer Scomdex XVII yang diselenggarakan di Jatim Expo di jalan Ahmad Yani Surabaya. Kadang aku heran aja, ada apa sih dengan si Jendral Ahmad Yani itu? Napa di seluruh kota besar di Indonesia ini, salah satu jalan utamanya selalu diberi nama Ahmad Yani? Sampe-sampe ada orang tua yang mau memberi nama anaknya dengan nama Ahmad Dani yang pastinya diplesetkan dari nama sang jendral tersebut, hehehe… ya udahlah itu juga politik dari jama orba. Ngapain pusing, lagian kita khan tidak punya hak memberi nama jalan, paling juga punya hak untuk memberi nama pada anak kita sendiri, hehehe, dengan catatan kita mampu untuk mempunyai anak sendiri, hahaha…
Yah pameran hari ini memang tidak sebesar yang biasa digelar di hall nya punya AJBS. Tapi rupanya tendensi dari penjualan komputer bergeser dari tipe computer desktop alias computer rumah yang besar dan beratnya amit-amit tersebut ke arah portable computer (computer jinjing) yang imut-imut dan jelas lebih ringan. Perbandingan beratnya lumayan lho. Untuk desktop computer kira-kira beratnya sepuluh kilo (kalo tidak percaya bole ditimbang sendiri tuh rumah dan monitornya, juga keyboard dan tikusnya sekalian) sedangkan portable computer yang biasa disebut dengan istilah laptop (atau juga dikenal dengan istilah notebook untuk wilayah Eropa) hanya mempunyai berat sekitar dua sampai tiga kilo saja. Ada sih seperti Hewlett Packard Pavillion Series yang beratnya mencapai tujuh kilo dengan layar wide screen tujuh belas inci, tetapi tidak masuk ke pasar Indonesia.
Seperti juga ramai diberitakan di koran-koran lokal, tendensi pembelian perangkat computer sudah beralih ke computer berdimensi mini. Mulai dari hape berjenis communicator maupun PDA (personal digital assistant), sampai ke laptop dan mini Apple computer. Tetapi aku tidak meliat satu stand dari Apple computer, melainkan hanya stand-stand besar yang dimiliki oleh vendor-vendor lokal seperti A-Note, Zyrex dan Axioo, maupun vendor yang bersifat internasional seperti Fujitsu Siemens, Toshiba, Sony, Acer maupun Hewlett Packard. Demikian juga aku temukan banyak penjual aksesoris computer seperti monitor untuk computer baek yang berdimensi raksasa seperti jenis-jenis CRT (cathode ray tube) maupun yang berjenis flat alias TFT (thin film transistor). Di samping itu aku juga liat banyak vendor dari laser printer dan ink jet printer yang terwakili disana, walau sayangnya dot matrix printer sudah tidak kutemukan lagi disana, padahal printer jenis ini masi digunakan oleh kalangan tertentu untuk membuat tembusan dan juga di ruangan-ruangan bebas debu (clean room) untuk memproduksi tinta mapun perangkat-perangkat elektronik laennnya. Juga pernak pernik computer seperti USB hub, modem modules, memory modules seperti RAM, SD Card baek mini, mikro, MMC mapun yang sederhana, bahkan Compact Flash dan USB flashdisk juga ada. Kemudian kuliat keyboard, mouse, sampai ke perangkat isi ulang tinta printer dan berbagai jenis kertas untuk printer maupun untuk fax juga ditawarkan di sana. Pokoknya termasuk komplet tuh pameran, walau tidak sekomplet bila digelar di AJBS, mungkin juga karena kendala luasnya ruang pameran.
Singkatnya aku menghabiskan waktuku di sana untuk meninjau lokasi, maklum aku baru pertama kalinya kesana, dan juga untuk melihat-lihat dari dekat segala jenis barang-barang baru yang aku mungkin belon pernah lihat sebelonnya. Yah itu namanya menghargai inovasi, hehehe… dibandingkan dengan pameran biasa di AJBS, Scomdex ke tujuh belas ini tidak terlalu rame dikunjungin masyarakat, walau tiket masuknya hanya dua ribu perak saja. Tidak tau kenapa, mungkin juga lokasi Jatim Expo yang agak kurang strategis dan juga lapangan parkir yang tidak memadai untuk jenis pameran ini, sehingga banyak orang harus memarkir mobilnya di luar lokasi gedung. Ditambah pula dengan kenyataan cuaca yang mendung, sehingga membuat orang agak ogah mengunjungin Scomdex ini. Maklumlah, bila tiba-tiba turun hujan, sedangkan mobil diparkir di luar gedung, maka pasti repot pulalah untuk masuk ataupun keluar gedung. Kesanku dari segi kepanitiaan lumayan bagus dan terorganisir, bahkan lebih mudah dinalar dimana tempat apa dijual, bila dibandingkan dengan ruangan punya AJBS. Di AJBS bentuk ruangannya khan lebih mengarah ke bentuk segi empat sama sisi, sedangkan di Jatim Expo ini berbentuk persegi panjang. Juga karena faktor luas dari Jatim Expo yang lebih kecil ini, maka tidak banyak yang bisa dipamerkan disana.
Apakah arti dari sebuah pameran bila tidak dilengkapi dengan ratusan SPG (sales promotion girls)? Ya betol sekali. Aku melihat, para SPG yang dipilih untuk ikut meramaikan pameran Scomdex kali ini lumayan ramah-ramah dan bukan tipe orang-orang yang menjijikan seperti biasa kutemui di banyak pameran-pameran. Juga banyak dari store manager yang hadir sendiri di pameran kali ini dan juga banyak teknisi ahli yang bisa memuaskan rasa ingin tauku dengan knowhow mereka. Aku paling sebel bila aku datang ke suatu pameran atau juga ke salah satu toko elektronik dimana SO (sales officer) nya tidak tau apa-apa. Makanya aku lebih menyukai berkunjung ke pameran-pameran bila ingin membeli sesuatu. Bukan hanya harga barang di pameran itu biasanya harga diskon, namun di pameran itu kita bisa belajar sesuatu, tidak mesti sih, tapi kebanyakan. Pengalaman baek kudapat dari teknisi Axioo yang berhasil menjelaskan dan mendemonstrasikan kemampuannya tanpa ada rasa sombong sama sekali terhadapku. Tapi mungkin juga dia sadar kalo ilmu computer nya masi kalah jauh dariku, hahaha. Narsis sedikit juga boleh khan? Tidak ada yang melarang kok, hahaha. Dia bahkan sangat berterima kasih padaku untuk setiap kali aku betulkan dari kesalahan yang dibuatnya. Yah, kadang orang juga bisa belajar dari pengunjung pameran seperti aku, hahaha….
Yang menarik itu, ada inovasi baru yang diberi nama PC Station. Fungsinya untuk menduplikasi computer yang ada lengkap dengan software-software yang sudah terinstall. Jadi kita tidak perlu membeli computer kedua, namun cukup hanya dengna membeli modul yang ditawarkannya seharga sembilan ratus lima puluh ribu perak, plus monitor, keyboard, dan mouse saja. Maka kita sudah mempunyai dua computer yang identis. Hanya saja SPM (sales promotion man) nya tidak mengerti tentang dasar hukumnya. Maklum di dalam EULA (end user licence agreement) itu biasanya tertulis software itu hanya bole digunakan oleh satu orang saja pada saat bersamaan. Jadi ya belon jelas gimana regulasinya bila PC Station ini digunakan di perkantoran maupun di pabrik-pabrik. Waktu itu ada salah seorang wakil sebuah perkantoran yang ditugaskan atasannya untuk mencari solusi murah dalam hal penggunaan software di beberapa computer. Dia ikutan nimbrung dari diskusi yang kumulai dengan si SPM yang ngakunya dari Jakarta namun usut punya usut tidak sampai kusut, ternyata dari Pontianak. Jelas aja logat bicara orang Kalimantan khan khas sekali, mana mungkin bisa ditutupin, hehehe…PC Station ini harus kuakui merupakan salah satu solusi untuk bidang perkantoran. Maklum aja, di jaman modern gini computer tidak bisa dilenyapkan begitu mudah dari sebuah kantor, hehehe…sudah merupakan kebutuhan vital dari sebuah kantor. Untuk lisensi aku juga sudah memberikan nasehat pada sang bapak IT manager yang lagi berbingung ria itu, yaitu mereka hendaknya membeli yang namanya Site Licence dan bukan Single Licence. Karena pada dasarnya Site Licence itu jauh lebih murah dibandingkan dengan Single Licence. Sama seperti pernah kuanjurkan kepada Hartanto temanku sewaktu masi kuliah di STTS dulu dan yang sekarang sudah menjadi asisten manager IT di sebuah pabrik di Gresik. Dia juga kontak aku untuk mencari solusi software yang murah.
Memang sih lebih baek kita memakai software yang asli. Sehingga bagian humas kita tidak selalu menyediakan amplop untuk para polisi rese yang hobinya memeras rakyat kecil itu, hehehe…juga hati nurani kita jadi lebih plong bila kita menggunakan barang yang legal. Tapi itu ya terserah kebijakan bos-bos kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan tersebut sendiri. Pembajakan software dengan alasan mahal sebenarnya tidak dapat kutoleransi karena ada juga software gratisan seperti sistem operasi Linux dan open office dari Sun Microsystem yang bisa kita download seenak kita, ataupun bisa kita beli dari vendor-vendor hardware. Maklumlah koneksi internet di Indonesia khan terkenal sangat lambat, malahan penyebarluasan gosip selebritis jauh lebih cepat, hehehe….
Sepulangnya dari pameran tersebut, tiba-tiba salah satu hapeku berbunyi menandakan masuknya sebuah pesan singkat dari temanku semasa SMA Elly. Setelah kubuka maka akupun terkejut. Kuliat di sana ada tertulis dia minta dihitungkan sebuah persoalan dengan limit. Ya itu lho limit yang ada di matematika jaman bahula itu lho. Ngapain coba si Elly ini tiba-tiba tidak ada angin dan tidak ada hujan, berhubungan dengan matematika? Lantas akupun telefon dia dan barulah setelah dijelaskan akupun mengerti. Dia hanya ingin menyakinkan dirinya sendiri, bila untuk menyelesaikan soal matematika kita harus belajar dulu. Laen halnya dengan membaca kitab suci. Hanya itu sih, hahaha. Lucu juga si Elly ini. Dia lagi hepi karena sekarang dia bole ikutan dalam kegiatan pelayanan yang berhubungan dengan mengasuh anak kecil. Ya si Elly ini memang sangat sayang anak kecil. Aku aja heran kenapa dia tidak mau menikah ya? Tapi seperti ada kutulis dalam karanganku yang lalu, menikah itu juga pilihan hati. Jadi ya itu juga murni urusan dia.
Sewaktu ngoceh-ngoceh sama dia dengan asiknya di telefon, terdengar suara gemuruh guntur di luar. Pertanda mau hujan, dan tak lama kemudian benarlah turun hujan di sekitarku. Karena aku tinggalnya di Surabaya Selatan dan Elly di Surabaya Utara, maka turun hujannya secara kebetulan tidak bersamaan. Hehehe… kalo mau bersamaan ya urusan langit donk, hahaha… Elly pun cepat-cepat pamit karena dia harus mandi dulu sebelon turun hujun. Nah lho, napa? Ternyata bila turun hujan rumahnya dia ikutan tenggelam alias banjir. Paling tidak air selokannya bisa naek dan itu akan menghindarkannya dari acara mandi. Hehehe. Kasian juga si Elly, ternyata rumahnya langganan banjir dan bila banjir, pasti deh masuk ke dalam rumahnya. Walah-walah, sadis amat. Untung aja dia ada tingkat kedua, jadi semua barang berharganya bisa diungsikan ke atas. Paling tidak itu yang kubayangkan, hehehe…
Ya tapi bole dikata enam puluh persen dari pemukiman penduduk di Surabaya ini banjir bila hujan turun dengan derasnya. Juga di daerahku. Untungnya sampe sekarang aku belon pernah merasakan air hujan masuk rumah sejak kami pindah dari Kapasari taon 1986 lalu. Parah memang bila banjir. Kecoa ngesot pada muncul semua, belon juga binatang kaki seribu dan juga puluhan binatang dan ulat air laennya. Kadang juga ada ular lho, sungguh menjijikan. Tapi ya itulah Indonesia, para pejabatnya rajin korupsi sementara rakyatnya tinggal di perumahan yang tergenang air. Bukan hanya di kota-kota kecil yang bisa banjir, bahkan di ibukotapun juga bisa kebanjiran. Sampai istana negara kapan hari khan juga ikutan tergenang air hujan. Dari BMG (badan meteorologi dan geofisika) dilaporkan kalo curah hujan tertinggi akan dicapai dibulan Januari dan Februari 2008. Alhasil banjir bandang pasti akan melanda ibukota lagi tuh, hehehe… kita-kita yang tidak tinggal di ibukota sih kagak peduli, itu juga urusan mereka, hehehe….
Ya itulah situasinya dibulan November ini, banjir sudah mengancam, also be aware!
Hujan Perdana di Bulan November
Mood : lagi hepi nich
Cuaca: hujan hujan hujan
Snack : lagi mik teh jasmin hangat
Song : It’s raining men dari Gery Halliwell
Genre : Pop
Tanggal : 2 November 2007
Dedikasi : semua orang yang lagi kehujanan dan kebanjiran di kota buaya ini
Single It’s Raining Men dari jebolan Spice Girl, Gery Halliwell, ini mengingatkan ku pada hari-hariku sewaktu aku masi di Jerman tempo dulu, dimana kita sering mengadakan acara grill party bakar-bakar bangkai, dan kadang cuaca berubah menjadi kurang ramah dan turunlah hujan. Maklumlah kotaku Aachen yang terletak kira-kira lima puluh satu derajat lintang utara itu termasuk kota di suatu lembah gunung, jadi tingkat turun hujannya relativ tinggi. Sehingga banyak pendatang baru yang menyamakan kotaku dengan kota London di Britania Raya maupun Seattle di sebelah barat laut dari Amerika Serikat. Kuteringat betapa hepinya hatiku bila melihat cuaca berbalik dari cerah menjadi berawan dan segera turun hujan. Biasanya terjadi dibulan delapan akhir. Dan menjelang bulan September hingga November temperatur akan turun dengan drastis dari sekitar dua puluh lima derajat celsius di pertengahan bulan delapan menjadi sekitar sepuluh derajat celsius dengan diiringi oleh angin kencang pada akhir Oktober.
Angin kencang? Ya benar angin sangat kencang yang mengarah ke badai. Tetapi memang alam ini sudah merencanakan semuanya dari awal mulanya. Pohon-pohon membutuhkan tiupan angin kencang itu untuk merontokkan dedaunan dari ranting-ranting cabang pohon. Kenapa daun-daun itu harus dirontokkan oleh angin, karena pada musim dingin itu tingkat penguapan akan sangat tinggi, karena tingkat kelembaban udara akan menurun relativ terhadap menurunnya suhu udara di luar. Nah bingung khan? Hehehe. Terima mati gitu ajalah, khan semuanya itu adalah kenyataan. Hehehe. Dengan menurunnya tingkat kelembaban udara, yang tentunya juga didukung dengan sedikitnya daun-daun yang melepaskan molekul airnya ke udara, maka pohon-pohon itu akan bisa bertahan hidup menghadapi musim dingin yang luar binasa. Maklum juga air tanah akan membeku, sehingga akar-akar tanaman akan mendapatkan kesulitan untuk suplai air nya. Jadi dengan menggugurkan daun-daunnya maka pohon itu akan selamat dari bahaya kekeringan. Dan tentunya suhu udara akan terus menurun karena musim dingin telah tiba.
Nah sering kali, dulu sambil menegak sebotol bir atau lebih, kami menikmati hangatnya pancaran api di panggangan kami. Tentu saja kami menggunakan briket dan bukan kompor gas. Bayangkan gimana rasa dan bau bangkai kami kalo dimakan, bila kami memanggangnya dengan bantuan gas maupun bantuan gas butane, hehehe, bau banget dan tentu saja tidak akan menimbulkan nafsu makan yang besar bagi kita semua.
Nah biasanya kami itu selalu memulai acara panggang memanggang bangkai itu di bulan Juli, dimana banyak rekan kerja biasanya mulai mengambil cuti untuk pergi berlibur bersama dengan keluarganya maupun orang yang disayanginya. Kemudian karena para bos juga ambil cuti di bulan delapan, karena bulan delapan itu adalah bulan liburan sekolah di negara bagianku, maka tentu saja kami dengan senang hati sedikit mengkorupsi waktu yang ada untuk sekedar menikmati cerahnya cuaca dan hangatnya matahari sore yang di Jerman tergolong langka tersebut. Maka kamipun banyak melakukan acara grill party spontan dengan semua rekan-rekan yang tersisa. Biasalah terorganisir rapi melalui email yang dikirimkan secara diskrit kepada orang-orang tertentu sehingga tidak ada yang nyasar ke mailbox nya sang bos. Padahal bila ketauan, si bos biasanya juga akan datang ikutan nimbrung duduk semeja dengan kami sambil menghisap rokok marlboronya dan dengan riang gembiranya dia akan becanda gurau dengan kami dan bahkan biasanya dia juga dengan senang hati menceritakan pengalamannya bermaen ski di Austria. Maklumlah dia khan orang Austria, hehehe...
Ya acara meng-grill gitu biasanya terjadi bole dibilang tiap minggu. Jadi ada sistem urunan juga, tapi terkadang banyak juga yang dengan suka rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk sekedar berbagi kebahagiaan dengan yang laen. Orang Jerman yang terkenal pelit dalam hal mengeluarkan uang itu, ternyata tidak pelit bila mereka harus mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang dan bersosialisasi dengan yang laen. Beneran lho. Mereka-mereka itu tipe orang-orang yang mau menikmati hidup juga. Jadi bukan tipe orang yang bekerja keras namun pada akhirnya tidak bisa menikmati hidupnya.
Nah sejak kemaren itu, di Surabaya Selatan mulai turun hujan, tentu saja diiringi dengan padamnya lampu di daerah Tenggilis dan sekitarnya. Maklumlah ini khan Indonesia. Maka hujan, banjir dan mati lampu sudah biasa. Hehehe... setelah lama menanti-nanti turunnya hujan, akhirnya hujan datang juga. Maka aku ingin menikmatinya dengan bernyanyi bersama Gery Halliwell dalam tembangnya It’s raining, men...sori kali ini aku rada malas menerjemahinnya, hehehe...
Humidity’s rising,
Barometer's getting low
According to all sources,
the street's the place to go
Cause tonight for the first time
Just about half-past ten
For the first time in history
It's gonna start raining, men.
It's Raining,,Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
OW! Humidity’s rising,
Barometer's getting low
According to all sources,
the street's the place to go
Cause tonight for the first time
Just about half-past ten
For the first time in history
It's gonna start raining, men.
It’s Raining, Men! Hallelujah!
It’s Raining, Men! Amen
I'm gonna go out,
I’m gonna let myself get,
Absolutely soaking wet!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Every Specimen!
Tall, blonde, dark and lean
Rough and tough and strong and mean
God bless Mother Nature,
she's a single woman too
She took off to heaven
and she did what she had to do
She taught every angel
to rearrange the sky
So that each and every woman
could find her perfect guy
It's Raining, Men!
Spoken:
Don’t get yourself wet girl,
I know you want to.
I feel stormy weather moving in
About to begin
With the thunder don’t you loose your head.
Rip off the roof and stay in bed!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining,,Men,
It’s Raining, Men
Cuaca: hujan hujan hujan
Snack : lagi mik teh jasmin hangat
Song : It’s raining men dari Gery Halliwell
Genre : Pop
Tanggal : 2 November 2007
Dedikasi : semua orang yang lagi kehujanan dan kebanjiran di kota buaya ini
Single It’s Raining Men dari jebolan Spice Girl, Gery Halliwell, ini mengingatkan ku pada hari-hariku sewaktu aku masi di Jerman tempo dulu, dimana kita sering mengadakan acara grill party bakar-bakar bangkai, dan kadang cuaca berubah menjadi kurang ramah dan turunlah hujan. Maklumlah kotaku Aachen yang terletak kira-kira lima puluh satu derajat lintang utara itu termasuk kota di suatu lembah gunung, jadi tingkat turun hujannya relativ tinggi. Sehingga banyak pendatang baru yang menyamakan kotaku dengan kota London di Britania Raya maupun Seattle di sebelah barat laut dari Amerika Serikat. Kuteringat betapa hepinya hatiku bila melihat cuaca berbalik dari cerah menjadi berawan dan segera turun hujan. Biasanya terjadi dibulan delapan akhir. Dan menjelang bulan September hingga November temperatur akan turun dengan drastis dari sekitar dua puluh lima derajat celsius di pertengahan bulan delapan menjadi sekitar sepuluh derajat celsius dengan diiringi oleh angin kencang pada akhir Oktober.
Angin kencang? Ya benar angin sangat kencang yang mengarah ke badai. Tetapi memang alam ini sudah merencanakan semuanya dari awal mulanya. Pohon-pohon membutuhkan tiupan angin kencang itu untuk merontokkan dedaunan dari ranting-ranting cabang pohon. Kenapa daun-daun itu harus dirontokkan oleh angin, karena pada musim dingin itu tingkat penguapan akan sangat tinggi, karena tingkat kelembaban udara akan menurun relativ terhadap menurunnya suhu udara di luar. Nah bingung khan? Hehehe. Terima mati gitu ajalah, khan semuanya itu adalah kenyataan. Hehehe. Dengan menurunnya tingkat kelembaban udara, yang tentunya juga didukung dengan sedikitnya daun-daun yang melepaskan molekul airnya ke udara, maka pohon-pohon itu akan bisa bertahan hidup menghadapi musim dingin yang luar binasa. Maklum juga air tanah akan membeku, sehingga akar-akar tanaman akan mendapatkan kesulitan untuk suplai air nya. Jadi dengan menggugurkan daun-daunnya maka pohon itu akan selamat dari bahaya kekeringan. Dan tentunya suhu udara akan terus menurun karena musim dingin telah tiba.
Nah sering kali, dulu sambil menegak sebotol bir atau lebih, kami menikmati hangatnya pancaran api di panggangan kami. Tentu saja kami menggunakan briket dan bukan kompor gas. Bayangkan gimana rasa dan bau bangkai kami kalo dimakan, bila kami memanggangnya dengan bantuan gas maupun bantuan gas butane, hehehe, bau banget dan tentu saja tidak akan menimbulkan nafsu makan yang besar bagi kita semua.
Nah biasanya kami itu selalu memulai acara panggang memanggang bangkai itu di bulan Juli, dimana banyak rekan kerja biasanya mulai mengambil cuti untuk pergi berlibur bersama dengan keluarganya maupun orang yang disayanginya. Kemudian karena para bos juga ambil cuti di bulan delapan, karena bulan delapan itu adalah bulan liburan sekolah di negara bagianku, maka tentu saja kami dengan senang hati sedikit mengkorupsi waktu yang ada untuk sekedar menikmati cerahnya cuaca dan hangatnya matahari sore yang di Jerman tergolong langka tersebut. Maka kamipun banyak melakukan acara grill party spontan dengan semua rekan-rekan yang tersisa. Biasalah terorganisir rapi melalui email yang dikirimkan secara diskrit kepada orang-orang tertentu sehingga tidak ada yang nyasar ke mailbox nya sang bos. Padahal bila ketauan, si bos biasanya juga akan datang ikutan nimbrung duduk semeja dengan kami sambil menghisap rokok marlboronya dan dengan riang gembiranya dia akan becanda gurau dengan kami dan bahkan biasanya dia juga dengan senang hati menceritakan pengalamannya bermaen ski di Austria. Maklumlah dia khan orang Austria, hehehe...
Ya acara meng-grill gitu biasanya terjadi bole dibilang tiap minggu. Jadi ada sistem urunan juga, tapi terkadang banyak juga yang dengan suka rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk sekedar berbagi kebahagiaan dengan yang laen. Orang Jerman yang terkenal pelit dalam hal mengeluarkan uang itu, ternyata tidak pelit bila mereka harus mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang dan bersosialisasi dengan yang laen. Beneran lho. Mereka-mereka itu tipe orang-orang yang mau menikmati hidup juga. Jadi bukan tipe orang yang bekerja keras namun pada akhirnya tidak bisa menikmati hidupnya.
Nah sejak kemaren itu, di Surabaya Selatan mulai turun hujan, tentu saja diiringi dengan padamnya lampu di daerah Tenggilis dan sekitarnya. Maklumlah ini khan Indonesia. Maka hujan, banjir dan mati lampu sudah biasa. Hehehe... setelah lama menanti-nanti turunnya hujan, akhirnya hujan datang juga. Maka aku ingin menikmatinya dengan bernyanyi bersama Gery Halliwell dalam tembangnya It’s raining, men...sori kali ini aku rada malas menerjemahinnya, hehehe...
Humidity’s rising,
Barometer's getting low
According to all sources,
the street's the place to go
Cause tonight for the first time
Just about half-past ten
For the first time in history
It's gonna start raining, men.
It's Raining,,Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
OW! Humidity’s rising,
Barometer's getting low
According to all sources,
the street's the place to go
Cause tonight for the first time
Just about half-past ten
For the first time in history
It's gonna start raining, men.
It’s Raining, Men! Hallelujah!
It’s Raining, Men! Amen
I'm gonna go out,
I’m gonna let myself get,
Absolutely soaking wet!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Every Specimen!
Tall, blonde, dark and lean
Rough and tough and strong and mean
God bless Mother Nature,
she's a single woman too
She took off to heaven
and she did what she had to do
She taught every angel
to rearrange the sky
So that each and every woman
could find her perfect guy
It's Raining, Men!
Spoken:
Don’t get yourself wet girl,
I know you want to.
I feel stormy weather moving in
About to begin
With the thunder don’t you loose your head.
Rip off the roof and stay in bed!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It's Raining, Men! Hallelujah!
It's Raining, Men! Amen!
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining, Men,
It’s Raining,,Men,
It’s Raining, Men
Thursday, November 1, 2007
Kangen Band, Sebuah Portret Pemusik Sederhana yang Sukses
Mood : lagi kekenyangan
Cuaca: mendung tidak hujan
Snack : lagi maem roti sisir yang enak
Song : lagi dengar lagu-lagunya kangen band
Genre : lagu sederhana
Tanggal : 1 November 2007
Dedikasi : Yuniwati, temanku yang pandai menyanyi
Kucoba-coba melempar manggis
Manggis kulempar mangga kudapat
Kucoba-coba melamar gadis
Gadis kulamar janda kudapat
Suatu hari aku iseng-iseng aja membeli kartu perdana XL Bebas edisi Bebas Emas di sebuah counter Okeshop di dekat rumahku. Aku kenal baek dengan SO (sales officer) nya karena memang sering cangkruk di tempatnya sambil ngobrol-ngobrol. Maklumlah aku khan orangnya super ramah sehingga selalu suka beramah tamah dengan siapapun termasuk satpam, hehehe. Dan darinya aku tau waktu itu kartu perdana XL Bebas lagi diobral (bukan hanya baju lho yang bisa diobal dengan sukses, hehehe). Karena harganya hanya enam ribu perak saja, maka tak ayal lagi aku menggotong satu buah kartu itu untuk kucoba. Memang sih, aku sudah mempunyai sebuah kartu XL dengan nomer yang lumayan cantik (ga mau terlalu narsis ah, hehehe, malu...maklum masi ada banyak orang yang nomernya lebih cantik dari nomerku, hehehe...) , tetapi aku ingin membandingkan apa aja sih keunggulan kartu XL edisi Bebas Emas itu. Ternyata selaen mendapat dua puluh lima SMS gratis, aku juga mendapatkan gratis RBT alias ring back tone atau juga lebih dikenal sebagai NSP alias nada sambung pribadi ala Telkomsel. Memang setauku sih XL menawarkan RBT gratisan untuk pengaktivan pertama, tapi aku tidak tau kalo XL Bebas Emas sudah menawarkan program yang lebih gila lagi. Apa itu? Kita diberi gratisan RBT tanpa bisa memilih. Jadi tiba-tiba sudah aktiv untuk tiga puluh hari kedepan tanpa kita bisa memilih. Hehehe...
Nah coba tebak RBT apa yang kudapat dari XL secara cuma-cuma tersebut? Tentu saja RBT dari Kangen Band yang judulnya “Tentang Aku, Kau dan Dia“. Walah Kangen Band. Grup apa pula itu? Usut punya usut asal tidak kusut, Kangen Band ini adalah grup band kontroversial yang telah berhasil membuat khasanah musik di Indonesia jadi gempar di beberapa bulan terakhir ini. Di satu pihak banyak juga dikecam oleh orang-orang yang mengerti musik dan menyadari bila warna musik Kangen Band adalah warna musik murahan atau musik tukang cendol (maklum leading vocal nya sebelonnya bener-bener berprofesi sebagai tukang cendol di Lampung sebelon terangkat menjadi penyanyi kondang dan sering manggung di televisi sampai di luar negeri segala lho, hehehe….). Herannya walau dihujat sebagai musik murahan, ada banyak orang yang menyukai musik mereka dan aku sendiri juga sudah sering melihat mereka tampil di televisi. Walah kalo jelek seperti dikecam banyak orang, kenapa kok ini grup musik menjadi ngetop ya? Ato hanya karena dukungan sponsor yang duitnya bejibun itu, sehingga mereka mampu menyuap setiap stasiun radio sehingga lagu mereka masuk ke dalam chart ato bahkan juga stasiun televisi lokal yang direktur programnya memang terkenal haus sogokan itu? Ga tau juga sih. Aku sendiri dulu pertama kali mendengar tentang Kangen Band ya lewat televisi, tanpa pernah menyangka bila grup ini bisa melejit. Bahkan ada salah satu sinetron di Indo yang telah memakai lagu mereka sebagai theme song sinetronnya.
Karena aku bukan penggemar sinetron bersambung begitu kecuali acara si Unyil, maka aku tidak pernah tau bila kecaman terhadap grup band ini begitu besar. Di salah satu tayangan wawancara bersama kepala redaksi Metro TV Andy Noya, aku baru sadar bila ada ancaman pembunuhan terhadap personil-personil grup ini, sehingga aku jadi pingin tau seperti apa lagu-lagu Kangen Band ini. Memang sih, bila didengar dari liriknya lumayan sederhana dan mudah dicerna, sehingga mudah diingat dan dihafal. Memang belon seperti karangan grup Letto asal Jogjakarta yang terkenal handal dalam menulis lirik lagunya. Tapi sebenarnya bila personil Kangen Band ini dibina lebih lanjut, mereka pasti bisa berkembang menjadi lebih baek. Mengingat anggota band ini adalah orang-orang dari Lampung yang dulunya hidup sederhana, dari anak tukang becak, sampai tukang cendol (untung-untung bukan preman kampung, hahaha). Mungkin juga karena mereka berasal dari kalangan yang bermaen musik berdasarkan dari pengalaman hidup mereka, dan itu dari golongan rendahan, maka musik mereka bisa mengena di hati dan mudah dicerna oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang mayoritas dari golongan tidak mampu itu. Yah kukira itu lah jawabannya. Pencinta musik sederhana di Indonesia jumlahnya jauh lebih besar daripada penggemar musik country yang dibawakan dengan topi koboi dan gaya perlente tak bermakna oleh salah satu penyanyi lagu country yang biasa tayang di Metro TV itu. Tentu saja aku tidak mau menyebut nama orang itu, bukan karena takut dianggap menghujat, namun karena aku bener-bener lupa, maklumlah namanya tak layak untuk kuingat. Pokoknya aku ingat dia pernah membawakan acara who wants to be millionaire dan juga acara game show Deal or No Deal yang bagi-bagi uang itu.
Yah, mayoritas orang Indonesia lebih suka mendengar musik tipe sederhana seperti lagu dangdut dan lagu-lagu seperti punya Kangen Band ini. Paling tidak itulah pendapatku. Sebagai pencinta segala jenis jenis musik, aku tidak mau menganak emaskan salah satu jenis musik yang ada. Bosanova juga oke, keroncong juga oke, bahkan lagu-lagu perjuangan seperti di acara kampungku waktu malam tujuh belasan juga oke. Semua bagus.
Memang bila ditinjau dari lirik lagu yang di karang oleh Doddy (pimpinan grup Kangen Band), aku liat bila dia berusaha untuk membuatnya sepuitis mungkin. Oke, aku termasuk orang yang tidak perfeksionis dan mau menerima kekurangan orang, karena aku tau tak seorangpun juga sempurna. Maka aku liat usaha yang mereka lakukan untuk menelorkan musik dan lirik yang lumayan telah ada. Walau sejujurnya, aku hanya meliat kemampuan vokalis grup inilah yang membuat melodi band ini menjadi melejit. Bila aku rada sinting dikit, sebagai penggemar musik jazz yang biasanya melodi dari suatu lagu juga bertumpu pada kemampuan alunan vokal dari penyanyinya, aku akan dengan senang hati dan berani menggolongkan warna musik Kangen Band ini ke arah warna musik semi-jazz. Hanya dengan memperhatikan kalo semua alunan musik hanya dijadikan background aja, berkebalikan dengan musik rock yang mengandalkan kemampuan sang Drummer menggebug peralatan pukulnya sekeras-kerasnya itu. Walau tidak sedikit pemaen drum yang juga mampu melantunkan lirik lagu dengan bagus. Sebagai contohnya adalah Phil Collins yang dulunya adalah penggebug drum dari grup Genesis. Dengan catatan kecil di sini, penggebug drum yang paling wahid sampai saat ini adalah almarhum penggebug drum dari grup nya Led Zeppelin.
Memang kemampuan bernyanyi adalah bakat alam yang tidak dimiliki semua orang. Namun vokalis Kangen Band ini (Andika kalo tidak salah namanya) punya kemampuan vokal yang sekilas malah lebih baek ketimbang penyanyi sombong dari Peterpan, yang kalo nyanyi selalu ditelan itu. Yang lebih mengagumkan lagi, jarang aku liat ada grup band yang mayoritas posisinya dihuni oleh kaum adam itu membawa seorang muslimah berjilbab untuk menjadi pendamping leading vocal nya. Salut! Suatu pemandangan yang langka dan berani...
Terdorong oleh kenyataan bahwa aku banyak mendengarkan dan mengamati musik-musik berbahasa Indonesia, sejak aku mendarat di tanah Jawa ini, maka hatiku tergerak untuk melampirkan lirik lagu-lagu Indonesia yang kebetulan aku senang dengar, di dalam blog ku. Yah, itung-itung cinta produksi anak negeri lah, hehehe…maklumlah aku lama tinggal di negara orang, jadi ada kebanggaan tersendiri, bila aku juga ikut mempopulerkan lagu-lagu Indonesia meski hanya dengan cara melampirkan lirik lagunya. Tentu saja untuk kalangan sendiri, hehehe…
Okelah, aku tidak mau berkomentar lebih jauh lagi tentang grup Kangen Band ini dan aku tidak mau menghujat grup ini sebagai grup yang membodohi masyarakat karena mereka berhasil menjual lebih dari 300 ribu copies di pasaran dan lagu-lagunya mereka di claim telah di download oleh lebih dari sejuta kali, tapi aku akan menyerahkan penilaian itu kepada pembaca saja. Boleh jadi grup ini bagus atau tidak. Tapi aku akan bersikap diplomatis dan menerima kehadiran mereka di khasanah musik Indonesia, sebagai grup musik lokal yang berhasil membuat “break through“ dalam bentuk penyaji musik Indonesia berwacana sederhana dan mudah cerna...untuk contoh dari lagu Kangen Band itu, aku sertakan di bawah ini lirik lagu dari Kangen Band yang awalnya di rilis dengan judul “Usai Sudah“ dan kemudian di revisi menjadi “Tentang Aku, Kau dan Dia“... selamat menikmati...
Selayakkah engkau tahu
Betapa ku mencintaimu
Kau terangkanku dari mimpi burukku
Selayakkah kau mengerti
Betapa engkau kukagumi
Kau telah tinggal dalam palung hati
Betapa hancur hatiku
Melihat engkau bersamanya
Namun ku mencoba tegar menghadapinya
Jangan kau menangis lagi
Tak sanggup aku melihatnya
Sekarang kau pilih diriku atau dirinya
Reff:
Kau tuliskan cerita
Tentang engkau dan dia
Membuat hatiku smakin terluka
Sudah usai sudah
Cerita engkau dan aku
Pulanglah sebagai bingkisan kalbu
Kutulis cerita tentang aku dan dia
Sehingga membuatmu terluka
Sudah usai sudah jangan menangis lagi
Kurasa sabarlah disini… kasih
Cuaca: mendung tidak hujan
Snack : lagi maem roti sisir yang enak
Song : lagi dengar lagu-lagunya kangen band
Genre : lagu sederhana
Tanggal : 1 November 2007
Dedikasi : Yuniwati, temanku yang pandai menyanyi
Kucoba-coba melempar manggis
Manggis kulempar mangga kudapat
Kucoba-coba melamar gadis
Gadis kulamar janda kudapat
Suatu hari aku iseng-iseng aja membeli kartu perdana XL Bebas edisi Bebas Emas di sebuah counter Okeshop di dekat rumahku. Aku kenal baek dengan SO (sales officer) nya karena memang sering cangkruk di tempatnya sambil ngobrol-ngobrol. Maklumlah aku khan orangnya super ramah sehingga selalu suka beramah tamah dengan siapapun termasuk satpam, hehehe. Dan darinya aku tau waktu itu kartu perdana XL Bebas lagi diobral (bukan hanya baju lho yang bisa diobal dengan sukses, hehehe). Karena harganya hanya enam ribu perak saja, maka tak ayal lagi aku menggotong satu buah kartu itu untuk kucoba. Memang sih, aku sudah mempunyai sebuah kartu XL dengan nomer yang lumayan cantik (ga mau terlalu narsis ah, hehehe, malu...maklum masi ada banyak orang yang nomernya lebih cantik dari nomerku, hehehe...) , tetapi aku ingin membandingkan apa aja sih keunggulan kartu XL edisi Bebas Emas itu. Ternyata selaen mendapat dua puluh lima SMS gratis, aku juga mendapatkan gratis RBT alias ring back tone atau juga lebih dikenal sebagai NSP alias nada sambung pribadi ala Telkomsel. Memang setauku sih XL menawarkan RBT gratisan untuk pengaktivan pertama, tapi aku tidak tau kalo XL Bebas Emas sudah menawarkan program yang lebih gila lagi. Apa itu? Kita diberi gratisan RBT tanpa bisa memilih. Jadi tiba-tiba sudah aktiv untuk tiga puluh hari kedepan tanpa kita bisa memilih. Hehehe...
Nah coba tebak RBT apa yang kudapat dari XL secara cuma-cuma tersebut? Tentu saja RBT dari Kangen Band yang judulnya “Tentang Aku, Kau dan Dia“. Walah Kangen Band. Grup apa pula itu? Usut punya usut asal tidak kusut, Kangen Band ini adalah grup band kontroversial yang telah berhasil membuat khasanah musik di Indonesia jadi gempar di beberapa bulan terakhir ini. Di satu pihak banyak juga dikecam oleh orang-orang yang mengerti musik dan menyadari bila warna musik Kangen Band adalah warna musik murahan atau musik tukang cendol (maklum leading vocal nya sebelonnya bener-bener berprofesi sebagai tukang cendol di Lampung sebelon terangkat menjadi penyanyi kondang dan sering manggung di televisi sampai di luar negeri segala lho, hehehe….). Herannya walau dihujat sebagai musik murahan, ada banyak orang yang menyukai musik mereka dan aku sendiri juga sudah sering melihat mereka tampil di televisi. Walah kalo jelek seperti dikecam banyak orang, kenapa kok ini grup musik menjadi ngetop ya? Ato hanya karena dukungan sponsor yang duitnya bejibun itu, sehingga mereka mampu menyuap setiap stasiun radio sehingga lagu mereka masuk ke dalam chart ato bahkan juga stasiun televisi lokal yang direktur programnya memang terkenal haus sogokan itu? Ga tau juga sih. Aku sendiri dulu pertama kali mendengar tentang Kangen Band ya lewat televisi, tanpa pernah menyangka bila grup ini bisa melejit. Bahkan ada salah satu sinetron di Indo yang telah memakai lagu mereka sebagai theme song sinetronnya.
Karena aku bukan penggemar sinetron bersambung begitu kecuali acara si Unyil, maka aku tidak pernah tau bila kecaman terhadap grup band ini begitu besar. Di salah satu tayangan wawancara bersama kepala redaksi Metro TV Andy Noya, aku baru sadar bila ada ancaman pembunuhan terhadap personil-personil grup ini, sehingga aku jadi pingin tau seperti apa lagu-lagu Kangen Band ini. Memang sih, bila didengar dari liriknya lumayan sederhana dan mudah dicerna, sehingga mudah diingat dan dihafal. Memang belon seperti karangan grup Letto asal Jogjakarta yang terkenal handal dalam menulis lirik lagunya. Tapi sebenarnya bila personil Kangen Band ini dibina lebih lanjut, mereka pasti bisa berkembang menjadi lebih baek. Mengingat anggota band ini adalah orang-orang dari Lampung yang dulunya hidup sederhana, dari anak tukang becak, sampai tukang cendol (untung-untung bukan preman kampung, hahaha). Mungkin juga karena mereka berasal dari kalangan yang bermaen musik berdasarkan dari pengalaman hidup mereka, dan itu dari golongan rendahan, maka musik mereka bisa mengena di hati dan mudah dicerna oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang mayoritas dari golongan tidak mampu itu. Yah kukira itu lah jawabannya. Pencinta musik sederhana di Indonesia jumlahnya jauh lebih besar daripada penggemar musik country yang dibawakan dengan topi koboi dan gaya perlente tak bermakna oleh salah satu penyanyi lagu country yang biasa tayang di Metro TV itu. Tentu saja aku tidak mau menyebut nama orang itu, bukan karena takut dianggap menghujat, namun karena aku bener-bener lupa, maklumlah namanya tak layak untuk kuingat. Pokoknya aku ingat dia pernah membawakan acara who wants to be millionaire dan juga acara game show Deal or No Deal yang bagi-bagi uang itu.
Yah, mayoritas orang Indonesia lebih suka mendengar musik tipe sederhana seperti lagu dangdut dan lagu-lagu seperti punya Kangen Band ini. Paling tidak itulah pendapatku. Sebagai pencinta segala jenis jenis musik, aku tidak mau menganak emaskan salah satu jenis musik yang ada. Bosanova juga oke, keroncong juga oke, bahkan lagu-lagu perjuangan seperti di acara kampungku waktu malam tujuh belasan juga oke. Semua bagus.
Memang bila ditinjau dari lirik lagu yang di karang oleh Doddy (pimpinan grup Kangen Band), aku liat bila dia berusaha untuk membuatnya sepuitis mungkin. Oke, aku termasuk orang yang tidak perfeksionis dan mau menerima kekurangan orang, karena aku tau tak seorangpun juga sempurna. Maka aku liat usaha yang mereka lakukan untuk menelorkan musik dan lirik yang lumayan telah ada. Walau sejujurnya, aku hanya meliat kemampuan vokalis grup inilah yang membuat melodi band ini menjadi melejit. Bila aku rada sinting dikit, sebagai penggemar musik jazz yang biasanya melodi dari suatu lagu juga bertumpu pada kemampuan alunan vokal dari penyanyinya, aku akan dengan senang hati dan berani menggolongkan warna musik Kangen Band ini ke arah warna musik semi-jazz. Hanya dengan memperhatikan kalo semua alunan musik hanya dijadikan background aja, berkebalikan dengan musik rock yang mengandalkan kemampuan sang Drummer menggebug peralatan pukulnya sekeras-kerasnya itu. Walau tidak sedikit pemaen drum yang juga mampu melantunkan lirik lagu dengan bagus. Sebagai contohnya adalah Phil Collins yang dulunya adalah penggebug drum dari grup Genesis. Dengan catatan kecil di sini, penggebug drum yang paling wahid sampai saat ini adalah almarhum penggebug drum dari grup nya Led Zeppelin.
Memang kemampuan bernyanyi adalah bakat alam yang tidak dimiliki semua orang. Namun vokalis Kangen Band ini (Andika kalo tidak salah namanya) punya kemampuan vokal yang sekilas malah lebih baek ketimbang penyanyi sombong dari Peterpan, yang kalo nyanyi selalu ditelan itu. Yang lebih mengagumkan lagi, jarang aku liat ada grup band yang mayoritas posisinya dihuni oleh kaum adam itu membawa seorang muslimah berjilbab untuk menjadi pendamping leading vocal nya. Salut! Suatu pemandangan yang langka dan berani...
Terdorong oleh kenyataan bahwa aku banyak mendengarkan dan mengamati musik-musik berbahasa Indonesia, sejak aku mendarat di tanah Jawa ini, maka hatiku tergerak untuk melampirkan lirik lagu-lagu Indonesia yang kebetulan aku senang dengar, di dalam blog ku. Yah, itung-itung cinta produksi anak negeri lah, hehehe…maklumlah aku lama tinggal di negara orang, jadi ada kebanggaan tersendiri, bila aku juga ikut mempopulerkan lagu-lagu Indonesia meski hanya dengan cara melampirkan lirik lagunya. Tentu saja untuk kalangan sendiri, hehehe…
Okelah, aku tidak mau berkomentar lebih jauh lagi tentang grup Kangen Band ini dan aku tidak mau menghujat grup ini sebagai grup yang membodohi masyarakat karena mereka berhasil menjual lebih dari 300 ribu copies di pasaran dan lagu-lagunya mereka di claim telah di download oleh lebih dari sejuta kali, tapi aku akan menyerahkan penilaian itu kepada pembaca saja. Boleh jadi grup ini bagus atau tidak. Tapi aku akan bersikap diplomatis dan menerima kehadiran mereka di khasanah musik Indonesia, sebagai grup musik lokal yang berhasil membuat “break through“ dalam bentuk penyaji musik Indonesia berwacana sederhana dan mudah cerna...untuk contoh dari lagu Kangen Band itu, aku sertakan di bawah ini lirik lagu dari Kangen Band yang awalnya di rilis dengan judul “Usai Sudah“ dan kemudian di revisi menjadi “Tentang Aku, Kau dan Dia“... selamat menikmati...
Selayakkah engkau tahu
Betapa ku mencintaimu
Kau terangkanku dari mimpi burukku
Selayakkah kau mengerti
Betapa engkau kukagumi
Kau telah tinggal dalam palung hati
Betapa hancur hatiku
Melihat engkau bersamanya
Namun ku mencoba tegar menghadapinya
Jangan kau menangis lagi
Tak sanggup aku melihatnya
Sekarang kau pilih diriku atau dirinya
Reff:
Kau tuliskan cerita
Tentang engkau dan dia
Membuat hatiku smakin terluka
Sudah usai sudah
Cerita engkau dan aku
Pulanglah sebagai bingkisan kalbu
Kutulis cerita tentang aku dan dia
Sehingga membuatmu terluka
Sudah usai sudah jangan menangis lagi
Kurasa sabarlah disini… kasih
Subscribe to:
Posts (Atom)